KUMPULAN CERPEN TEMBANG DUKA
TEMBANG DUKA
1. DIARY ATIKA
Sekarang Kakak
Atika telah banyak berubah. Sikapnya yang selalu riang, berubah menajadi
seorang pemurung. Kakak yang rajin beraktivitas menjadi pendiam. Malahan Kakak
makin sering merenung di dalam kamar seorang diri. Keadaan Kakak semakin tidak
karuan. Aku dan ibu sangat khawatir melihatnya. Keadaan ini semakin
berlarut-larut sehingga ibu sangat mencemaskannya dan mengutarakan kekhawatiran
ibu pada Kakak Atika.
“Ibu lihat,
akhir-akhir ini kamu banyak berubah Nak“, kata ibu.
“Aku tidak
apa-apa kok Bu, aku baik-baik saja!“, jawab Kakak sambil tersenyum.
“Tapi
mengapa kamu selalu termenung, apa kamu punya masalah Nak?, ayo ceritakan ke
ibu, siapa tahu ibu bisa membantu“.
“Mungkin aku
kecapean saja Bu,“.
“Kalau begitu,
kamu harus banyak istirahat supaya kamu segar kembali“ kata ibu sambil
tersenyum.
Aku
memang keluarga miskin. Ayah sudah lama
meninggal dunia. Kini tinggal ibu
seorang diri yang merawat dan membesarkan aku dan Kakak Atika.
Untuk
mencukupi kebtuhan hidup, ibu menanam sayur-sayuran yang hasilnya
sangat pas-pasan. Untunglah aku dan kakak bersekolah di SMP Terbuka. Walaupun
demikian, biaya hidup sehari-hari tetap aja terasa mencekik. Untuk itulah kakak
Atika berusaha membantu ibu dengan menjadi tukang cuci di beberapa rumah
tetangga. Penghasilannya lumayan cukup buat keperluasn dapur. Aku sendiri
terkadang heran dengan keadaan Kakak. Sebelumnya Kakak Atika sanggup berjalan kaki dari rumah
ke sekolah setiap hari. Tetapi
sekarang, jangankan berajalan kaki, duduk berlama-lama di bangku sekolah pun
terasa berat. Badannya lemas, kepalanya berat, dan penglihatannya
berkunang-kunang. Dan...bruughh!..., Kakak Atika jatuh pingsan. Teman-teman
sekelasnya berusaha membantunya membawa ke ruang UKS untuk menadapatkan
pertolongan. Sudah tiga bulan Aku melihat keadaannya. Aku tahu bahwa kakak mungkin mengidap suatu penyakit. Entah
penyakit apa. Tetapi apapun penyakitnya itu, yang jelas sangat merenggut
kekuatan dan pertahanan tubuhnya. Sudah tiga kali ia pingsan di sekolah. Aku
sangat kasihan pada kakak. Tetapi kakak melarang aku menceritakan kejadian ini
pada ibu. Kakak takut kalau ibu khawatir. Dengan berat hati aku menyanggupi permintaan kakak.
Tetapi naluri seorang ibu,tetap aja dapat membaca dan merasakan keadaan
anaknya. Ibu tahu, ada sesuatu yang tidak beres dengan kesehatan kakak karena
berat badan kakak terus menurun. Tetapi ibu tidak punya biaya. Ibu kemudian mengantar
Atika ke puskesmas untuk diperiksa. Perawat di puskesmas hanya memberi Atika
obat penambah darah. Katanya Atika kurang darah, dan menganjurkan Atika supaya
memeriksakan diri ke rumah sakit. Ibu Atika pun mengiayakan, walau di dalan
hatinya tetap saja merasa kalau itu pekerjaan yang terasa amat berat. Biaya
rumah sakit sekarang sangat mahal. Atika sangat memahami perasaan ibu.
“Akh..!,
mengapa aku menjalani hidup yang sesusah ini..?, mengapa untuk mendapatkan
sesuap nasi saja terasa sulit?, aku sangat kasihan melihat keadaan Kakak.
Kondisi kesehatannnya makin memburuk. Badannya makin kurus, mukanya pucat,
matanya cekung, dan rambutnya berguguran. Sekarang Kakak sudah sangat lemah.
Wajahnya yang cantik dan ceriah perlahan-lahan berubah, seperti berubahnya
siang berganti malam. Kakak tidak kuat lagi ke sekolah dan lebih banyak
mengurung diri serta meringkuk di dalam kamarnya yang sempit. Hanya ada satu
hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh kakak yaitu shalat. Kakak sangat rajin
melaksanakannya. Bahkan tiap malam ia terbangun dengan langkah tertatih-tatih
mengambil air wudhu. Kadang aku juga heran, dalam keadaan biasa Kakak sangat
susah begerak, tetapi dalam melaksanakan shalat Kakak dapat tahan berlama-lama
melaksanakannya. Hingga di suatu pagi, kudapati Kakak pingsan lagi. Aku dan ibu
berusaha membuat Kakak siuman. Aku menangis begitu juga ibu. Tak lama kemudian,
kakak Atika siuman. Ia membuka matanya yang cekung. Sekilas senyum tersungging
di bibirnya. Aku melihat wajah Kakak begitu bercahaya. Aku sangat bergembira
karena berfikir Kakak akan segera sembuh. Ibu terus membelai rambut Kakak,
sementara aku memijat tangannya. Atika kemudian menatap ibu dengan mata yang
senduh.
“Ibuu...
Atika tidak kuat lagi Bu...Atika capek Bu, A...Atika mau istirahat.“, bisik
Atika dengan napas tersengal-sengal.
“Jangan pergi Nak, jangan tinggalkan ibu
dan adikmu...kalianlah harapan ibu Nak, kalianlah yang membuat ibu tetap
bahagia walau hidup kita dihimpit derita Nak...“,jawab ibu sambil menangis.
Atika kemudian
mengarahkan pandangannya ke arahku menatap Aku dalam-dalam.
“A...Adik,
belajar yang rajin yaah, Atika punya diary... na...nanti kamu boleh membacanya,
Ibu... ma...maafkan Atika bu... ma...maafkan Atika Dik“.
Setelah itu, aku melihat bibir Atika koma-kamit, diikuti
tatapan matanya yang kosong. Atika kemudian terkulai lemas. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun. Kakak Atiaka telah tiada, lama kelamaan
sekujur tubuhnya semakin dingin dan kaku. Aku dan ibu menangis sejadi-jadinya
sambil memeluk tubuh kakak yang kaku. Aku kemudian segera berdiri dan mencari
diary kakak sesuai pesan terakhirnya. Aku sangat ingin segera mengetahuinya isi
goresan pena Kakak dala diary yang disimpannya. Aku membuka lemari kakak tetapi
diary itu tak kudapatkan di sana. Aku kemudian mencarinya di dalam laci,
dan...ternyata aku menemukannya. Sebuah buku diary warna
pink tersimpan dengan rapi. Aku sangat penasaran apa isi diary kakak. Lembar
demi lembar kubaca, tetapi yang membuatku tersentak kaget adalah
lembaran-lembaran terakhir. Dengan air
mata berderai, aku membaca setiap goresan pena Kakak.
Senin,
20 Juli 2007
“Diaryku
sayang…
Setelah aku menyisihkan sebagian
upah mencuciku selama tiga bulan, akhirnya aku memberanikan diri memeriksakan
kesehatanku ke dokter. Aku melakukannya seorang diri. Aku tidak mau ibu dan
adikku tahu. Aku takut, sungguh…aku takut mendengar vonis dokter. Karena aku
sendirian, maka dengan terpaksa dokter memberitahukan langsung akan penyakitku
yang sebenarnya. Kata dokter, aku mengidap leukimia atau kanker darah.
Dokter juga mengatakan bahwa sekarang sudah stadium akhir. Sel darah merahku
hampir tergorogoti semua oleh sel darah putih. Aku sempat menanyakan ke dokter,
apakah penyakitku masih bisa disembuhkan?, tetapi kata dokter aku sembuh
kemungkinannya kecil. Katanya Aku terlambat berobat, seandainya belum parah,
sembuh bisa saja asal rajin berobat dan kemoterapi. Aah...kemoterapi, dengar
namanya saja baru kali ini. Dan yang membuat aku hampir pingsan adalah...ketika
dokter mengatakan, kalau aku akan bertahan selama tiga bulan lagi, masya
Allah...kerongkonganku terasa tercekik mendengarnya. Segawat itukah
penyakitku?...bukankah kehidupanku selama ini sudah sakit teramat
sakit?..mengapa harus ditambah lagi dengan penyakit yang seharusnya hanya milik
orang-orang kaya?... mengapa ya Allah... mengapa?...Astagfirullahul adziim,
ampuni aku yang Allah, rasanya aku tak sanggup menghadapi cobaanmu, tapi aku
tahu Engkau selalu ada dan melihatku. Untuk itu ya Allah... beri aku ketabahan
dan kekutan menjalani semuanya...“.
“Oh diaryku..!
“
Aku
sangat sedih. Tapi aku harus berjuang. Aku tidak ingin leukimia merenggut
nyawakau. Tapi.....? Ya Allah seandainya bisa, aku memohon supaya Engkau
memperlambat perputaran waktumu agar aku dapat bertahan hidup lebih lama lagi
bersama ibu dan adikku. Aku tidak ingin meninggalkan mereka, aku ingin
membahagiakan ibu. Kalau aku telah tiada dengan siapa lagi mereka akan berbagi
derita..?. Saat kutulis goresan ini sejuta rasa pilu berkecamuk dalam hatiku.
Diaryku…doakan
yaa, semoga aku cepat sembuh…semoga apa yang dikatakan dokter tidak benar“. Amin
Aku
membaca lembaran diary kakak dengan air mata yang tumpah.
“Kakak,
mengapa kakak sembunyikan semua ini dari aku dan ibu?, mengapa kakak berjuang
seorang diri?..mengapa kak..? mengpaaa…?’, ratapku dalam hati. Aku kemudian
membaca lembaran terakhir diary Kakak.
Jum’at,
17 Agustus 2007
“Diaryku sayang…
Aku
tahu, hari ini semua orang brgembira, hari ini semua orang bersorak, hari ini
Bangsaku mengumandangkan kemerdekaannya.Tapi aku…?, menarik napas aja sangat
susah. Aku tahu… tidak akan bertahan lebih lama lagi. Penyakit ini tidak
memberiku kesempatan lagi.
“Diaryku
sayang…
Mungkin
ini adalah goresan terakhirku…aku tidak sanggup lagi berjuang. Sekuat apapun
aku bertahan, ternyata… Leukimia… tetap aja lebih kuat dariku…
“Diaryku
sayang…
Aku
sangat berat meninggalakan ibu dan adikku, aku tidak mau membuat mereka sedih.
Keadaan hidup kami yang pahit selama ini sudah cukup menjadi sumber derita,
ibarat hidup di dalam kolam penderitaan yang tidak bertepi. Aku yakin suatu
hari nanti keadaan ibu dan adiku akan membaik. Tetapi …saat hari itu tiba,…
mungkin aku tak lagi bersama mereka,dan bearada di tempat yang jauh….aku hanya
berharap semoga adikku senantiasa membantu dan merawat ibu selamanya…
“Aaakh…diaryku…
Andaikan
kau lihat tubuhku yang kurus dan mataku yang cekung…
Andaikan
kau bisa mewakili aku meminta maaf pada teman, guru, ibu, dan adikku...
Andaikan kau bisa merasakan,
betapa penjemputku semakin dekat..
Anadaikan kau bisa melihat,
betapa jari-jariku tak kuat lagi menyanggah pena untuk meneruskan goresan
ini...
Andaikan bisa membantu aku
melapangkan jalanku menghadapi maut...
Maafkan...maaaa...fffkaan....“.
Semakin lama, tulisan kakak semakin tidak terbaca. Mungkin
kakak menulisnya sesaat sebelum pingsan kemudian buru-buru menyimpannya ke
dalam laci. Akh Kakak, ternyata derita yang kau alami jauh lebih perih dari
pada derita yang menghimpit hidup kita selama ini. Keesokan harinya, aku
mensiarahi kuburan Kakak Atika. Kulihat gundukan tanah yang masih merah.
Kutaburkan bunga di atas pusaranya, kubacakan fatihah, lalu kupanjatkan do’a
buat Kakak Atika. Dalam hati aku berbisik ‚‘‘Kakak sekarang Engkau tidak
menderita lagi. Kini engkau telah bebas dari segala derita. Aku janji akan
merawat dan membantu ibu seperti permintaan yang tertulis di dalam diary Kakak.
Beristirahatlah dengan tenang, semoga damai di sisi-Nya.
Amin@
2.
TRAGEDI
Desa
Damai adalah desa kelahiran Arif Rahman. Di desa yang subur itu, Arif tampak
sedang menggembalakan dua ekor sapi kesayangannya. Ia duduk di atas dahan
sebatang pohon sambil meniup seruling bambu yang selalu ia bawa. Arif
mengenakan celana pendek warna coklat, dan baju kaos oblong warna putih yang sudah
berubah warna krem dan beberapa lobang di bagian depannya. Ia juga selalu
memakai tutup kepala yang terbuat dari anyaman daun lontar yang di desanya
dinamakan saraung. Benda itu sangat membantu melindungi wajahnya dari sengatan
terik matahari maupun derasnya hujan.
“Rado...Lulung...jangan jauh-jauh merumputnya
ya, sebentar lagi kita akan segera pulang“, teriak Arif dari atas pohon.
Kedua
binatang yang sedang asyik merumput itu tampak mengangkat kepala begitu
mendengar namanya dipanggil. Kedua binatang itu seakan mengerti apa yang
dikatakan oleh Arif. Arif selalu menikmati kegembiraan bersama sapi
kesayangannya setiap hari sepulang sekolah.
Sekarang
sudah musim penghujan. Pepohonan dan rerumputan tampak menghijau. Daun-daun
yang berguguran di musim kemarau kembali bersemi dan tampak menghijau diterpa
sinar matahari.
Arif dan ayahnya pun sudah bersiap untuk
menggarap tiga petak sawah miliknya. Seperti tahun sebelumnya, Arif selalu
membantu pekerjaan ayahnya. Ia anak yang sangat rajin. Selain itu Arif juga
termasuk siswa yang pandai di sekolahnya. Walaupun selalu membantu ayahnya,
tetapi ia tidak pernah mengabaikan tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya.
Terkadang pula ia membawa buku pelajaran ke tempat gembalaannya. Untuk itu
dikalangan teman dan gurunya, ia mendapat gelar “si gembala cerdik“.
“Arif, besok ayah bangunkan pagi-pagi
sekali ya? supaya kita cepat sampai di sawah“, kata ayah Arif.
“Iya ayah, Arif juga pengen cepat supaya
tidak telat sampai sekolah”, jawab Arif. Suara adzan subuh membuat Arif dan
ayahnya terbangun. Setelah menunaikan shalat subuh, Arif dan ayahnya sudah
meninggalkan rumah menuju sawahnya. Ayah Arif berjalan di depan sambil membawa
peralatan membajak sawah sedangkan Arif menghalau Rado dan Lulung serta membawa
makanan untuk bekal. Mereka menyusuri pematang sawah. Tampak
genangan air memutih menyerupai hamparan permadani. Sesekali Arif berlari
sambil mempermainkan air yang ia lalui. Pagi itu udara sangat dingin. Dusunnya
yang sunyi masih tampak tertutup kabut saat ia sudah terdengar memangil nama
sapi kesayangannaya. Setelah lama berjalan dan melewati beberapa petak sawah,
akhirnya sampailah ia ke sawahnya. Arif segera menuju ke dangau tempatnya untuk
menyimpan bekal dan air minum yang ia bawa. Walaupun dangaunya kecil tetapi
cukup untuk beristirahat dan berlindung dari hawa panas dan dingin. Ayah sedang
memasang alat pembajak pada Rado dan Lulung. Kedua binatang itu berdiri tenang
menggerakkan ekornya sambil menunggu aba-aba dari majikannya.
“Ayo Rif bantu ayah memasang kedua kayu ini di leher Rado dan Lulung“.
“Baik Yah“.
“Kayunya angkat sedikit, yap ...nah sudah
beres. Kedua sapi itu sudah siap untuk membantu pekerjaan Arif dan ayahnya.
“Ayah, kapan ya kita membajak sawah pake
traktor kan
tidak repot lagi. Selain itu waktunya lebih cepat sehingga meggarapnya cepat
beres yah”.
“Wah!, traktor harganya mahal Nak, lebih sepuluh juta. Petani kecil seperti
kita belum mampu untuk membeli traktor. Biaya pupuk dan pestisida aja mahal,
bagi ayah ada yang bisa kita makan dan juga biaya sekolahmu sudah membuat ayah
senang Nak. Kamu juga harus memelihara tanah kita ini karena cuma tanah ini
yang bisa ayah wariskan untuk kamu dan Ibumu Nak. Selain itu, seharusnya
di desa kita ini ada penyuluh pertanian supaya hasil panen kita meningkat. “,
kata ayah tenang.
“Itukan harus dilakukan oleh seorang
Insinyur Pertanian Yah“.
“Itu dia masalahnya, di desa kita ini
belum ada yang menjadi Insinyur Pertananian. Ayah mengharap Insinyur Pertanian
itu adalah kamu Nak, Tapi…apa ayah bisa melihat kamu meraih gelar itu ya?”.
“Iya Yah, makanya Arif pengen jadi
Insinyur Pertanaian supaya bisa memberikan penyuluhan kepada para petani
tentang cara bertanam yang baik sehingga dapat membangun desa kita dikemudian
hari Yah. Tapi ayah kok ngomongnya gitu sih“, kata Arif heran.
“Tidak, ayah hanya sekedar mengingatkan
kamu Nak, dan kamu memang harus sekolah supaya lebih maju, jangan seperti ayah
yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Arif, rasanya ayahlah yang paling
bangga kalau kelak kamu menjadi Insinyur Pertanian. Kamu jangan pernah seperti
ayah yang cuma bisa jadi petani miskin seperti sekarang Nak.
Arif,
kamu bisa pulang sekarang supaya kamu cepat-cepat ke sekolah. Jangan lupa
sepulang sekolah kamu ke sini jaga Rado dan Lulung ya?“.
Arif menangkap nada kegetiran di balik
kata-kata ayahnya. Setelah mendapat perintah, Arif segera berlari meninggalkan
ayahnya. Ia menelusurui kembali jalan yang telah dilaluinya tadi subuh untuk
menuju ke rumahnya untuk bersiap-siap ke sekolah. Sepulang sekolah, Arif shalat
duhur, makan siang, kemudian segera menemui ayahnya yang membajak sawah sampai
jam sepuluh pagi. Setelah itu, Rado dan Lulung dibiarkan istirahat di bawah
pepohonan yang tak jauh dari sawah sambil merenggut rumput yang hijau. Setelah
sampai di dangau, ayah Arif pulang. Giliran Ariflah yang menjaga kedua sapi itu
sampai petang.
Sawah
Arif sudah siap di tanami padi setelah dibajak selama dua hari lamanya. Hari
ini cuaca mendung, awan hitam tampak bergantung di angkasa. Suara guntur pun
terdengar pertanda hujan akan segera turun. Gunung Bulu Saraung yang tinggi
menjulang tertutup awan hitam. Beberapa petani tampak pulang sedangkan yang
lain tetap meneruskan peekerjaannya. Sama halnya dengan Arif dan ayahnya yang
tetap membungkuk menanam padi. Sesekali Arif menatap puncak gunung itu sambil
mengeluh dalam hati.
“Biarlah hujan deras asal jangan guntur,
karena aku sangat takut pada suara guntur“, bisik Arif dalam hanti.
Arif
dan ayahnya kemudian memakai mantel yang sudah dipersiapkannya. Bagi mereka
berdua, hujan bukanlah penghalang untuk bekerja.
Tak
lama kemudian hujan pun turun disertai angin yang bergemuruh. Pucuk pohon meliup-liup di tiup angin. Derasnya
hujan membuat Arif tidak bisa melihat karena jarak pandang terganggu oleh
derasnya hujan.
“Arif, ayo cepat ke dangau Nak, hujannya
deras sekali nanti kamu sakit“.
“Iya Yah, tanggung
tinggal dikit”.
Makin lama hujan makin deras. Butir-butir
hujan menimpa tubuhnya disertai guntur
yang menggelagar. Arif dan ayahnya masih terus membungkuk menanam padi karena
ingin menghabiskan yang masih tersisa di gemgamannya.
“Arif, ayo bernaung dulu di dangau Nak,
ntar ayah nyusul”.
“Baik ayah”. Arif segera berjalan untuk
menuju dangau tempat istirahatnya. Guntur
bersahut sahutan disertai kilatan kilat yang menerangi areal persawahan.
Sesampai di dangau, Arif memperhatikan ayahnya dari jauh. Ia kemudian teringat
pada pelajaran geografinya bahwa tidak baik berada di tanah lapang ketika
sedang hujan karena dapat kesambar petir. Untuk itu Arif segera memangil
ayahnya untuk berteduh di dangau.
“Ayah...ayah! cepat ke
sini ntar aja dilanjut”, teriak Arif.
Suara Arif timbul tenggelam
diantara suara hujan yang bergemuruh. Ayah Arif tampak berjalan menuju dangau
ketika kilat disertai suara guntur
yang menggelegar membahana seketika. Langit seakan terbelah, tanah seakan terbongkar. Arif menutup mata karena
ketakutan sambil menarik nafas. Ia membuka mata kemudian mencari-cari ayahnya
yang tidak dilihatnya lagi.
“Ayaah...ayaaah.....ayah di manaa?!“,
teriak Arif.
Arif
segera meninggalkan dangau menuju ke sawah sambil berteriak-teriak. Dari
kejauhan Arif melihat sesuatu. Perasaan Arif tidak enak, dadanya berdegup
kencang. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada ayahnya. Ia segera berlari
mendekati apa yang dilihatnya. Langkah kakinya berhenti begitu melihat ayahnya
terlentang di pematang sawah. Arif berjongkok sambil menggoyang-goyakan tubuh
ayahnya.
“Ayaah...ayah bangun! Ayaaaah banguun yah
huuuuk“, teriak Arif sambil mengangis. Arif memeriksa nadi ayahnya dan
dirasakannya tidak berdenyut lagi. Sekujur tubuh ayah seperti hangus terbakar.
Arif berteriak histeris seakan ingin mengalahkan suara guntur yang masih
membahana di atasnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia tidak
menyangka kalau ayahnya akan secepat itu meninggalkannya. Dengan perasaan
hancur, Arif segera berlari memanggil orang yang sedang menanam padi yang agak
jauh dari sawahnya. Melihat ada yang berkerumun orang-orang pun segera
berdatangan ke tempat Arif. Para warga kemudian mengangkat mayat ayah Arif ke
dangau sebelum mengantarkannya pulang. Arif mengikuti usungan jenasah ayahnya
dengan air mata yang tumpah. Ibu Arif pun sangat terpukul dengan kepergian
suaminya. Ia teringat akan umur Arif yang baru empat belas tahun. Umur yang masih
muda itu sudah harus menggantikan beban ayahnya sebagai tulang punggung
keluarga karena ayahnya telah meninggal. Sudah sebulan ayah Arif meninggal.
Untunglah orang-orang sekampungnya ramai-ramai membantu pekerjaan Arif hingga
tiga petak sawahnya selesai ditanami padi. Hari ini Arif duduk di dangau sambil
menerawang jauh. Di tempat inilah ia melihat ayah yang dicintainya meninggalkannya
untuk selamanya.
“Ayah, aku berjanji untuk belajar dengan
giat agar aku dapat menjadi Insinyur Pertanian seperti yang ayah harapkan“,
kata Arif.
Umur
Arif memang belum siap untuk mengambil alih tugas ayahnya. Tetapi ia adalah
anak yang berbakti pada orang tua sehingga ia akan berusaha untuk menjalankan
tanggungjawab dan amanat yang dibebankan kepadanya tanpa keluh kesah dan tanpa
rasa putus asa. Bagi Arif hidup adalah perjuangan, berjuang untuk diri sendiri,
untuk orang tua, dan berjuang untuk bangsa dan negara menuju kehidupan yang
bermakna@
3. ARTI SEBUAH KEGAGALAN
Cindy
Arianty, menuliskan namanya di atas permulir penadaftaran. Tekadnya untuk
menjadi seorang penyanyi terkenal sudah bulat. Cindy diantar oleh Anggi teman
sekelasnya. Hari ini adalah tanggal audisinya. Pagi-pagi sekali Cindy sudah
bersiap-siap meninggalkan rumah Ia langsung menuju tempat audisi didampingi
Anggi. Sebenarnya dalam
hati pun Anggi heran mengapa Cindy bersi keras untuk ikut audisi. Padahal
menurutnya suara Cindy biasa-biasa saja bahkan pas-pasan. Selain itu, Cindy
merupakan peserta termudah. Maklumlah baru kelas tiga SMP, dan belum ounya
pengalaman bertanding.Tetapi itulah Cindy percaya dirinya begitu tinggi. Ia
yakin benar akan menjadi pemenang dalam audisi itu. Berbagai hayalan indah
sudah memenuhi benaknya.
“ Pokoknya Aku harus jadi penyanyi
terkenal, dan itu sudah pasti. Apalagi suaraku memang sangat mendukung jadi apa
yang akan menghalangi Aku jadi Sang bintang?” Kata Cindy menyombongkan diri.
“Cindy...Cindy.. jangan pandang enteng
orang lain loh?, Disini kan
banyak saingan, gimana kalo ternyata vokal mereka lebih bagus?“, Jawab Anggi.
“Akh... mereka semua kecil!! Aku kan sudah berlatih dan
sekarang aku betul-betul sudah mantap, liat aja Nggi.. Aku akan membuktikan
perkataanku“.
Cindy sudah memasuki antrian audisi yang
panjang. Udara panas membuatnya sangat gerah, ditambah lapar dan haus yang juga
menyerangnya. Smentara itu Anggi hanya memperhatikan dari jauh. Cindy mulai
kesal, slop tinggi yang digunakannya membuat betisnya pegal. Peluh bercucuran
bercampur aroma dari para peserta yang jumlahnya masih berjubel. Setelah tiga
jam berdiri akhirnya Cindy pun mendapatkan nomor pesertanya yaitu 00313.
“ Kok angka 13 sih kata orang inikan
angka sial, eh tolong nomorku bisa diganti, tanya Cindy pada panitia”? Ooh maaf
mbak, ndak bisa diganti. Itu nomor sesuai dengan
nomor antrian Mbak! Jawab
panitia.
“ Ukh dasar
angka sial mau diganti aja ndak bisa!“ gerutu Cindy . Sejak
mendapatkan angka tiga belas itu perasaan Cindy mulai tidak tenang. Yang
terbayang diangannya angka sial melulu. Anggapan ini betul-betul telah menguras
dan meruntuhkan semangatnya. Cindy kemudian duduk di kursi penantian bersama
peserta lain sebelum memasuki ruangan audisi. Sesekali Cindy mengulang-ngulang
syair lagu yang akan dinyanyikannya sambil berbisik-bisik. Rasa cemas sudah
mulai menyerang hati Cindy semangatnya yang menyala bagaikan kobaran api seakan
padam disiram air. Tak lama kemudian,
Cindy
sudah memasuki ruangan audisi. Tetapi di dalam ruangan itupun harus antri. Perlahan tapi pasti antrian itu bergeser dan
berkurang. Cindy langsung menuju ke tempat yang telah ditentukan. Dia berdiri
di depan tiga orang juri yang telah menantinya. Sesaat Cindy menatap ketiga
orang itu. Cindy Nerves tangannya terasa dingin dan tubuhnya lemas, sorotan
lampu yang terang membutnya semakin gerogi.
“ Ayo mundur dua langkah kemudian
silahkan menyanyi“,kata juri.
Cindy
langsung menyanyikan lagu Duo Maia „“Emang Gue Pikirin“ Padahal bukan lagu itu yang dipersiapkannya.
Nada awal lagunya pun sangat tinggi.
“Yop,
cukup, Coba langsung bagian reff,“ kata juri .
Cindy langsung menghantam reef, dan begitu sampai di
reef suaranya terselip, kandas dan pecah. Dewan juri hanya tersenyum kecil sedangkan
Cindy tampak makin pucat.
“ Coba
sekarang nyanyikan Lagu Rossa ”Ayat-Ayat
Cinta,“ kata juri.
“Maaf
lagu itu Aku tidak hafal“, jawab Cindy lesuh, kalau gitu coba lagunya Bunga
Citra Lestari “Sunny”, kata
juri.
Setelah diam sejenak Cindy pun menyanyi.
“Sunny..Sunny..Sunny…Sunny..Sunny.”,
“Loh!!
Kok Sunny terus”.
“Aku lu .. pa, jawab Cindy”.
“Maaf kalau begitu
Adik gagal“.
“ To.. to long satu
lagu lagi, aku pasti bisa“.
“Maaf
sudah tidak bisa, ikut lain kali aja yaa?”.
Dengan perasaan kecewa Cindy meninggalkan ruangan
audisi. Nomor peserta yang
bertuliskan angka 00313 yang masih menggantung dilehernya langsung dicopot.
“Dasar angka sial!, gara-gara angka ini
Aku gagal menjadi bintang“, gerutu Cindy.
Angka itu langsung
diremas-remas sampai membentuk bola pimpong, lalu dicampakkan begitu saja di
sudut ruangan. Sementara itu Anggi yang dari tadi menunggu segera berlari-lari
menghampirinya.
“Gimana,
kamu berhasil kan? Tanya Anggi penuh semangat.
Tapi Cindy yang ditanya tidak menjawab sepatah kata pun. Ia malah menyenggol bahu Anggi
kemudian berlalu begitu saja. Sedangkan anggi berlari-lari mengejarnya.
“Cindy
kamu gagal ya,! Kok diam aja”.
“Aku
gagal Nggi, sudahlah Aku malas ngomong sama kamu, tinggalkan aku sendiri!” .
“Cin…Cin… tunggu dulu kamu nggak usah kebawa
emosi gitu donk, inikan pertandingan. Namanya pertandingan ya harus ada kalah
dan ada menang“, bujuk Anggi.
“Tidak
Nggi!! Aku itu pantas jadi juara, vokalku oke.. tapi gara-gara nomor sial itu
tadi makanya aku kalah Nggi, Kaaalah!!!“, Kata Cindy penuh kecewa.
Tanpa disadarinya butir-butir air mata Cindy
mengalir dipipinya.. Cindy tidak bisa menerima kekalahannya. Selain kecewa dia
juga malu pada dirinya sendiri dan juga pada Anggi. Melihat Cindy menangis
Anggi segera memeluknya, ditepuk-tepuknya bahu Cindy dan terus menerus
menghibur sampai tangis Cindy redah.
“Cindy
anggaplah ini suatu pengalaman”.,
“Ingat
Cin, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku yakin Cin, kamu memang
oke hanya saja Dewi Fortuna belum berpihak pada kamu. Jadi kamu harus bersabar sambil terus melatih diri
yaa”,hibur Anggi.
Setelah menangis perasaan Cindy sudah plong. Rasa
sesak yang memenuhi dadanya telah sirna oleh nasihat Anggi sahabatnya.
“Anggi, maafkan aku, selama ini aku terlalu membanggakan diri.
Aku menganggap bahwa akulah yang terbaik dan meremehkan orang lain. Aku...aku
malu sama kamu Nggi“. Kata Cindy sambil menunduk.
“Sudahlah Cin, nggak perlu malu sama
aku,aku in kan sahabatmu too?“, kata Anggi sambil tersenyum.
“Jadi...kamu masih mau bersahabat dengan
aku Nggi?“, tanya Cindy.
“Yaa ialah..!, masak sih cuma gagal
audisi lantas persahabatan kita terputus, kamu rugi dua kali tahuu“,jawab Anggi
menggoda.
“Makasih Anggi, kamu memang sahabat
sejatiku“.
Kini Cindy tersenyum
kembali. Kegagalan yang telah dialaminya menjadikannya sadar, bahwa dalam hidup
ini ada hal-hal di mana manusia harus menerimanya dengan ikhlas yakni takdir.
Selain itu, Cindy menyadari bahwa tidak boleh memebanggakan diri sendiri dan
meremehkan orang lain. Kegagalan menempah dirinya untuk lebih tegar, sabar, dan
yang terpenting lagi adalah menerima kegagalan itu dengan segenap kebesaran
jiwa@
4. SEBENING
KASIH
Suasana siang itu sangat gerah, panas dan
mencekam. Angin sekan enggan berhembus, burung-burung pun ogah berkicau
semuanya diam membisu seakan turut merasakan apa yang di alami oleh Rival.
Hanya terdengar suara langkah dari sepatu Bu Guru Nova yang mondar mandir di
ruangan itu dengan muka geram. Rival berdiri mematung di pojok ruangan tidak
jauh dari Dodi. Mereka menghadap BP karena terlibat perkelahian seru. Keduanya
kedapatan sedanag adu jotos pada jam istirahat. Bibir Rival berdarah kena tinju
Dodi. Demikian juga dengan Dodi, selain pipinya membiru, kancing bajunya juga
terlepas karena ditarik oleh Rival. Antara Rival dan Dodi memang sudah lama
tidak akur. Mereka tidak ubahnya bagai api dalam sekam. Tiap ada kesempatan,
mereka saling melepaskan kejengkelannya ha nya karena persoalan sepele. Di
sekolahnya Rival meamang sudah tidak asing lagi bagi siswa lain dan juga para
gurunya. Ia terkenal nakal, liar suka mengganggu, dan tidak
ada perhatian pada pelajaran. Dan perkelahiannya dengan dodi pada hari ini
memaksanya kembali berhadapan dengan guru BP untuk kesekian kalinya.
“Hei, ksmu berdua sudah sangat sering melakukan
pelanggaran. Kamu jangan sok jagoan ya?!. Sekarang jelaskan!, mengapa kalian
berkelahi!“.
“Rival yang memulai Bu‘‘
‘‘Tidak Bu, Dodi yang buat gara-gara Bu,
Hee Dodi, jangan macam-macam ya? Apa masih mau dapat tinju?!”, bentak rival.
“Sudah..sudah!. Kalau kalian saling
menuduh kapan masalahnya selesai?” kata Bu Nova.
“Nak, kalian itu anak sekolah, masa
kealakauan kalian seperti preman?. Kalau ada masalah coba selesaikan secara
kepala dingin. Jangan langsung adu jotos. Itu kan namanya main hakim sendiri.
Apalagi kalau hanya persoalan sepele. Sekarang kalian harus saling meminta
maaf, lal kembali ke kelas masing-masing. Tetapi ingat, Ibu tidaka mau ada
masalah lagi. Terutama kamu Rival. Ini sudah peringatan yang terakhir. Kalau
sampai membuat masalah lagi, maka kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini
apalagi orang tuamu sudahj menandatangani surat persetujuan. Ingat, ini
peringatan terakhir, mengerti?!“ kata Bu Nova denga nada tinggi.
Setelah lama berpandangan,
dengan wajah kesal Dodi dan Rival saling meminta maaf kemudian menuju ke
kelasnya masing-masing. Rival memasuki kelasnya dengan tertunduk lesuh. Saat
itu Bu guru Evi sedang mengajarkan bahasa Indonesia di kelasnya. Setelah
permisi, Rival menuju ke tempat duduknya. Tetapi belum sempat melangkah, Bu Evi
sudah menahannya. Rival kaget, ia sangat takut dimarahi sama Bu Evi,walaupun
terhadap guru lain Rival bandel, tetapi berbeda dengan Bu Evi. Dalam hati Rival
sangat kagum padanya. Selain cara mengajarnya bagus, Bu Evi juga tegas tetapi
penyayang. Akhirnya Rival berbalik
menghadap ke Bu Evi sambil menunduk karena tidak berani memandang Bu Evi.
Sementara itu Bu Evi tersenyum kecil pada Rival sebelum memulai pembicaraannya.
“Rival, mengapa kamu berkelahi lagi Nak, ibu sudah sering
mendengar hal-hal kurang baik tentang kamu Nak. Mengapa setiap permasalahan
harus diselesaikan dengan kekerasan? Kamu kan sudah kelas tiga Nak. Sebentar
lagi akan ujian dan masuk SMA“,tanya Bu Evi.
“Sa..saya....“jawab Rival tergagap.
‘’Rival, sebenarnya Ibu sangat kasihan
sama kamu nak. Ibu tahu kamu anak yang baik, dan pintar. Hanya saja, kamu tidak
pernah serius mau belajar dan waktu belajarmu terbuang percuama karena kamu
isi dengan hal-hal yang tidak ada
manfaatnya malah hanya akan menyusahkan diri kamu sendiri nak. Hidup ini adalah
kesempatan, dan kesermpatan utu harus kamu manfaatkan sebaik mungkin. Buatlah
orang tuamu bangga nak. Kamu adalah harapan mereka. Ibu yakin ,kamu pasti dapat
merubah kelakuannmu. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Memang tidak
ada manusia yang sempurna. Ibi yakin, dengan kesungguhan dan kesabaran kamu
pasti akan jauh lebaih baik. Sebenarnya, Ibu sangat ingin bertemu dengan oerang
tuamu. Kpan kira-kira mereka ada waktu?“, tanya Bu Evi dengan lembut.
“Papa pulangnya
selalu malam Bu, sedangkan mama...“.
Begitu menyebut
nama mama, Rival langsung terdiam dan terlihat sangat sedih. Bu Evi sangat
melihat perubahan di wajah Rival. Untuk itu Bu Evi melanjutkan pembicaraannya dengan
mengajukan pertanyaan pada Rival.
“Mama Rival kenapa?“
tanya Bu Evi penasaran.
‘’Mama
sudah meninggal Bu”.
“Kapan
nak?”.
‘’Sewaktu
Rival kelas 3 SD Bu”.
Sekarang
Bu Evi sudah memahami mengapa Rival menjadi anak yang nakal. Rupanya Rival
kurang mendapat kasih sayang. Walaupun Rival berlimpah materi, tetapi ia kurang
mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Papanya hampir tidak punya waktu untuk
anaknya, sedangkan mama yang biasanya mencurahkan kasih sayang dengan sepenuh hati
telah tiada.
‘’Sekarang Ibu memahami keadaan dan perasaanmu Nak.
Kehilangan mama memang mendatangkan kesedihan yang sangat dalam. Apalagi anak
seusiamu Nak. Mulai sekarang, kamu justru harus lebih memacu diri. Buatlah
orang tuamu bangga. Apalagi mama kamu, walaupun dia ada di alam lain, tetapi
ibu yakin mama kamu sangat sedih melihat kelakuan kamu selama ini. Sekarang,
maukah Nak Rival berjanji untuk menjadi anak yang baik?. Ibu yakin, kamu pasti
bisa Nak. Ibu siap membantu kamu kapan saja, asal kamu dapat menjadi anak yang
baik. Bisa
kan nak?“,
tanya Bu Evi sambil menepuk bahu Rival.
Rival mengangguk mengiyakan permintaan Bu Evi. Tanpa
terasa air matanya meleleh. Sudah lama ia tidak pernah menangis. Ia ingat
terakhir kali mneteskan air mata sewaktu mamanya meninggal. Hari ini perasaan
Rival sangat tersentuh. Nasehat Bu Evi telah menghadirkan sugesti yang baru dalam
hatinya dan membasahi jiwanya yang kering. Sejak itu pula, Rival telah berjanji
dan bertekad untuk merubah kelakuan buruknya selama ini. Rival merasa bahwa
sekarang ia tidak sendiri lagi. Selama ini jiwanya meronta, merasa miskin di
tengah kekayaan orang tuanya dan merasa sendiri di tengah keramain. Selama ini ia merasa tak seorang pun yang mau memahami
dan memperhatikan dirinya. Ia banyak ditegur oleh gurunya tetapi selalu dengan
nada yang tinggi sehingga bukan menyadarkannya tetapi justru semakin membuatnya
memberontak. Hal ini sangat berbeda dengan perlakuan yang diterimanya dari Bu
Evi yang telah menashatinya dengan lemah lembut. Bu Evi memeberikan kepercayaan
dan keyakianan pada Rival sehingga ia berusaha untuk bangkit dan menemukan jati
dirinya. Apalagi umurnya yang menjelang lima belas tahun memang memasuki
pancaroba ke usia remaja.
Hari berikutnya, Rival telah menunjukan
perubahan yang drastis. Semua temannya merasa heran. Begitu juga dengan
guru-gurunya. Kalau sebelumnya ia banyak dibicarakan karena kenakalannya,
sekarang sebaliknya ia banyak dibicrakan karena kelakuan baiknya. Sebagai
seorang guru, Bu Evilah yang paling bergembira karena telah berhasil melakukan
tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik. Sekarang Rival lebih rapi, tenang,
ceria dan lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Kini Rival
menjalani hari-harinya dengan ceria, seceria kicauan burung di pagi hari@
5.
SEUNTAI KATA MAAF
Lonceng tanda peragantian pelajaran sudah berbunyi. Kelas Andi tampak kosong. Entah mengpa, waktu sudah
berjalan lima belas menit tetapi Bu Intan guru Biologi di kelas Andi belum
datang. Tentu saja kelas Andi jadi gaduh. Kesempatan ini digunakan oleh Ananto
Adnan untuk beraksi. Dan yang menjadi bulan-bulana bagi Anto
adsalah Andi. Maklumlah Andi anak yang rajin dan juga pandai. Walaupun guru
tidak ada , Andi tetap membuka dan membaca buku buku pelajarannya. Sedangkan
anak yang lain asyik dengan urusannya masing-masing. Yang mengherankan adalan
Anto, jangankan tidak ada guru ada guru saja ia masih mencari-cari alasan untuk
keluar masuk kelas. Tetapi hari ini, kelakuan Anto sangat lain. Ia juga
kelihatan asyik memperhatikan dan membaca. Padahal tiap harinya Anto tidak
pernah serius mengikuti pelajaran. Ia selalu menjadi pengganggu dan pemancing
keributan di dalam kelasnya. Teman
sekelasnya pun tidak berani mengadukan perbuatan Anto kepada guru. Mereka takut
menangung resikonya. Setiap ada yang berani membantahnya, Anto langsung
mengancam dengan kepalan tinjunya. Hal ini disebabakan
karena Anto mempunyai banyak teman yang terkenal brutal dan suka bertindak
kasar. Anto sudah lama mengincar Andi. Oleh Anto, Andi dicap telah berani
menantangnya. Untuk itu, Anto selalu mencari-cari cara untuk dapat mengerjai
Andi. Itu semua lantaran Anto pernah membawa dan melihat majalah seronok saat
belajar. Tanpa sadar, Andi langsung nyeletuk, “iih kok bawa majalah gituan
sih?”.
Tentu saja Anto
kaget dan langsung naik pitam. Suatu hari, Andi kehilangan uang pembayaran
komitenya. Ada temannya yang melihat bahwa Anto yang membuka atas Andi dan
mengambil sesuatu. Tetapi Anto langsung mengancam kalau ada yang membocorkan
maka akan dipukulnya.
Andi sangat
bersedih. Uang pembayaran itu sangat susah didapatkannya. Setiap hari ia
bekerja membantu cuci piring pada seorang penjual ikan bakar di dekat rumahnya.
Sebagian dari upahnya disisihkannya untuk kperluan sekolah. Hari ini, sepulang
sekolah Andi bverjalan seorang diri. Di mulut lorong yang
agak sepi, Anto dan dua orang temannya sengaja menunggu kedatangan Andi. Begitu Andi mendekat, Anto langsung menghadang dan
mencegat Andi sambil berkacak pinggang.
‘‘ Heii Andi, kemarin kamu nuduh aku yang
ngambil uangmu yaa!“,tanya Anto sinis.
“Ha?..nuduh kamu?...ti..tidak, aku ndak
nuduh siapa-siapa. Memang uang aku hilang, tetapi aku tidak mencurigai siapa
pun“, jawab Andi tenang.
‘‘Aah! Ndak usah basa basi, pokoknya aku
tahu kalau kamu nuduh aku!, ngerti brengseek?!“ Anto kelihatan sangat beringas.
Sebelum Andi sempat menjawab, Anto sudah mencengkram kerah bajunya dan
melayangkan tinju ke wajah Andi. Andi tidak kuasa untuk
melawan. Melepaskan cengkeraman Anto saja Andi tidak berani. Apalagi Anto tidak
sendirian.
“Anto, ja..jangan, ampuun bibir saya sakit,
to…tolong jangan pukul lagi” kata Andi memohon.
‘’Aa…rasakan
ini!,..bruugkh..! satu lagi kepalan tinju Anto mendarat di bibir Andi.
Sementara itu Andi hanya bisa meringis kesakitan. Hantaman tinju Anto membuat
bibir Andi pecah. Darah segar meleleh di bibirnya. Andi meringis, ia merasakan
bibirnya terasa nyeri.
Melihat bibir Andi berdarah, Anto langsung
melepaskan cengkeraman tangannya. Rupanya Anto takut juga kalu-kalau ada yang
melihat dan mengadukan perbuatanntya pada guru. Sebelum meninggalkan Andi, Anto
masih sempat mengancam Andi.
‘’Kalau
kamu berani lagi macam-macam apalagi sampai melaporkan kejadian ini pada guru,
maka kamu akan mendapat tinju lagi!,mengerti brengseek?!”, ancam Anto.
Andi tidak bersuara. Ia hanya mengangguk kecil
mengiayakan ancaman Anto. Begitu Anto menjauh, Andi pun melanjutkan
perjalanannya sambil memegangi bibirnya yang beradarah. Sambil bersenda gurau, Anto dan kedua temannya
menyeberang di jalan yang padat itu. Ketika di tengah jalan, tiba-tiba seorang
pengendara motor melaju dengan kencang. Pengendara motor itupun tak kuasa
mengendalikan motornya ketika Anto berada pas di depannya.
Motor itu pun langsung
menghantam bahu kanan Anto,sehingga terlempar ke pinggir jalan menghantam
trotoar. Anto pingsan, darah segar mengucur dari mulut dan hidungnya.
Pengendara motor langsung kabur. Orang-orang mengerumuni Anto. Andi kaget
melihat banyak orang berkerumun. Ia segera berlari dan menyusup di antara
kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terperanjatnya Andi ketika
meliahat kalau yang tergelatak di depannya adalah Anto yang baru saja
memukulnya. Dengan di bantu polisi Andi membawa Anto ke rumah sakit terdekat
untuk segera mendapatkan pertolongan. Sudah satu jam Andi menunggui Anto tetapi
belum juga siuman. Andi sangat sedih melihat keadaan Anto.
Dalam hati tak henti-hentinya berdo‘a semoga Anto segera siuman. Rupanya do’a
Andi dikabulkan. Tak lama kemudian Anto pun sadar. Dengan pelan-pelan ia membuka mata dan memperhatikan
keadaan di sekelilingnya. Anto kaget melihat Andi berada di dekatnya. Mulutnya
komat-kamit seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada Andi.
‘‘An...di...maafkan aku, sungguh a..aku
menyesal atas perbuatanku padamu...sekarang aku sudah mendapatakan ganjarannya..“.
‘‘Ia Nto, aku sudah memaafkan kamu, aku
harap kamu cepat sembuh supaya kita ke sekolah lagi“, jawab Andi.
‘‘Ia Ndi,..ternyata hatimu sangat mulia,
aku sangat malu padamu Ndi, sekarang aku sudah tenang karena sudah mendapat
maaf dari kamu yang terasa sudah mengurangi separuh dari sakit yang aku
rasakan‘‘, kata Anto.
“Istirahatlah Nto, jangan berbicara
supaya keadaanmu cepat membaik“, jawab Andi.
Tampak butir-butir bening mengalir dari kelopak mata
Anto. Ia menangis haru, ternyata selama ini ia telah mensalimi dirinya sendiri
dan orang lain. Ia menyesal betapa rasa dendam yang tidak beralasan telah
menyesatkan tingkah lakunya. Ia baru sadar betapa Andi berhati mulia yang telah
menolong, menunggui, dan memaafkan dirinya. Andi pun demikian, walaupun bibir
bekas hantaman tinju Anto masih berbekas, tetapi dengan ikhlas menolong dan
memaafkan Anto. Sungguh, hanya orang yang berhati mulialah yang dapat memaafkan
disaat ia sanggup memeberi hukuman.
Suatu keajaiban bagi Anto, setelah beberapa hari di
rumah sakit, Anto sudah diperbolehkan pulang. Sekarang Anto dan Andi sudah
menjadi sahabat karib, karena kelakuan Anto pun sudah berbeda dengan waktu
sebelumnya. Kecelakaan yang dialaminya memberinya pelajaran berharga bahwa
ternyata orang yang kita sakiti terkadang adalah orang yang pernah atau akan memberi
arti dalam kehidupan kita@
6. SANG BINTANG
Dian Hardianti tersentak kaget ketika seseorang memanggil
namanya. Spontan ia menoleh mencari sumber suara itu yang ternyata Bu Guru
Nadia guru bahasa Indonesianya. Dian menyapa Bu Gurunya dengan sedikit agak
malu.
“Eh Bu Guru,
ada apa Bu?”.
“Gini Dian,
Minggu depan akan ada lomba bercerita mengenai Ozon, kamu bisa ikut lagi kan?”,
tanya Bu Nadia.
“Boleh Bu,
tapi kayaknya waktunya sudah mepet. Dian kan harus cari informasi di internet
dulu mengenai Ozon Bu“.
“Oo Jangan
khawatir, pihak penyelenggara sudah melampirkan buku tentang Ozon di
undangannya. Ibu sudah mengedit bagian-bagian yang penting. Jadi kamu tinggal
menghapal sambil memahaminya, gimana menurutmu?”, tanya Bu Nadia meyakiankan.
“Wah,
baguslah Bu, kalau begitu saya bersedia mengikuti lomba itu Bu‘‘, jawab Dian
penuh semangat.
Di sekolahnya Dian memang terkenal jago pidato. Dalam
tiga bulan terakhir sudah empat kali ia menjurai lomba Tingkat SMP sekotanya. Baik
pidato dalam bahasa Inggris, lomba
bercerita, juga lomba musikalisasi puisi. Tidak heran kalau ia duduk di kelas
dua Bilingual kelas yang khusus menampung siswa siswi
yang
cakap dalam berbahasa Inggris. Wajahnya
yang imut dan Vokalnya yang memukau merupakan pendukung kemenangannya di
berbagai ajang perlombaan. Tentu saja orang tua dan guru-gurunya sangat
berbangga karena semakin mengharumkan nama sekolah SBInya itu. Pertandingan
sudah semakin dekat. Dian sudah menghapal dan memahami segala sesuatu tentang
Ozon. Mulai dari pengertian, manfaatnya bagi kehidupan, penyebab kerusakannya,
upaya perlindungan, akibat sinar ultraviolet, dan pecegahannya agar tidak
menimbulkan penyakit bagi kehidupan manusia di muka bumi. Penampilan Dian pun
sudah dipersiapakn dengan matang. Mulai dari ekspresi, intonasi, penekanan
kalimat, sampai penggunaan alat peraga. Hari yang dinanti-nanti pun telah tiba.
Dian sudah berpakaian rapi dengan rok biru serta baju batik khas sekolahnya.
Segala persiapannya dimasukkan ke dalam tas.
“Dian, sebelum berangkat kita berdo’a dulu ya, semoga
kita sukses”, kata Bu Nadia.
Dian tersenyum bahagia mendengar perkataan Bu Nadia. Bagi
Dian, Bu Nadia bukan hanya sekedar membimbingnya, tetapi juga menanamkan
kepercayaan pada dirinya sehingga ia merasa pasti dan yakin dengan
penampilannya di depan podium. Tak lama kemudian ,sampailah mereka
di tempat pertandingan. Dian memasuki ruangan besar didampingi oleh Bu Nadia.
Ruangan itu sudah tertata rapi. Mulai dari panggung, meja juri, tempat MC,
kursi peserta, dan tempat duduk para pengantar beserta sponsor dari
masing-masing sekolah. Sesaat Dian memperhatikan keadaan ruangan besar itu
hingga matanya tertuju pada piala-piala cantik yang berjejer rapi di sudut
ruangan.
“Wah, cantik sekali piala itu betapa
bahagianya aku kalau berhasil membawa pulang salah satunya“, kata Dian dalam
hati.
Dian
mengambil tempat duduk di bagian depan. Sesekali ia menoleh ke belakang memperhatikan peserta lainnya. Dian tersentak
kaget ketika ia mengenali salah satu peserta yang ia lihat.
“Ah, itu kan
Si Taupan sang juara pidato waktu saya SD“, kata Dian dalam hati.
Taupan memang pernah menjuarai beberapa lomba. Bahkan
pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti lomba mendongeng. Hal itulah yang
membuat Dian berkecil hati.
“Lho Dian
kamu kok diam aja dari tadi, terus kenapa wajahmu tiba-tiba tidak semangat
begitu?“
“A..anu Bu,
di belakang sana ada Taupan“, kata Dian gugup.
“Taupan?
Siapa itu Taupan, terus ada apa dengan dia Nak?“, tanya Bu Nadia penasaran.
“Taupan itu
kakak kelas saya waktu di SD Bu dan dia jago pidato. Dian takut”.
“Oo begitu,
kamu juga kan jago Nak. Ibu sama sekali tidak meragukan kemampuanmu siapa pun
yang kau hadapi. Kamu kan sudah membuktikannya dengan kemenangan-kemenanganmu
di berbagai pertandingan sebelumnya. Jadi Ibu yakin, Insya Allah kamu akan
menjadi yang terbaik Nak“, kata Bu Nadia penuh semngat.
Nasehat dan suport
Bu Nadia telah membangkitkan kembali semangat Dian yang sempat porak-poranda
oleh kehadiran Taupan di ruangan itu. Dian kembali memperbaiki dududknya ketika
MC mengumumkan jika acara segera di mulai. Peserta pertama sudah tampil
membawakan certinya tentang Ozon. Disusul oleh peserta yang kedua yang sesekali
melirik naskah yang di pegangnya. rupanya pesrta ini tidak menghapal cerita
yang di bawakannya. Tepuk tangan panjang mengakhiri penampilan peserta ke dua.
Sekarang tibalah giliran Dian sebagai peserta yang ke tiga. Tampak Bu Nadia
membisikkan sesuatu kepada Dian yang di terimanya dengan anggukan kecil sebelum
ia melangkah ke atas panggung. Dian memulai pidatonya dengan mengucapkan salam
kemudian menyapa dewan juri dan seluruh hadirin yang ada di ruangan itu. Tampil
di depan umum sudah merupakan hal yang biasa bagi Dian. Dengan semangat Dian
membawakan ceritanya sambil memainkan sebuah globe ukuran bola volly yang telah
dipersiapkannya. Selain itu, Dian juga memperlihatkan beberapa gambar yang dapat menghasilkan zat-zat
penyebab menipisnya lapisan Ozon seperti gambar AC, kulkas, Hair Spray, parfum
semprot, dan lain-lain. Dewan
juri dari Dinas Lingkungah Hidup menganguk-anggukan kepala pertanda kagum pada
Dian. Hadirin semakin kagum ketika Dian mengahiri pidatonya dengan sebuah puisi
tentang Ozon yang dibawakannya dengan penuh penghayatan. Setelah mengucapakan
salam penutup, gemuruh tepuk tangan dari para hadirin memenuhi ruangan yang
besar itu.Dian kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang berseri-seri.
“Penampilan
kamu luar biasa Nak, semua orang kagum padamu”, bisik Bu Nadia pada Dian.
“Terima kasih
Bu, itu semua berkat bimbingan dan perhatian Ibu”, jawab Dian.
Peserta berikutnya tampil satu persatu hingga sampailah
pada peserta yang terakhir. Dian mendengar nama Taupan di panggil. Taupan pun
melangkah ke atas panggung tanpa senyum. Ia kelihatan sangat tegang dan nerves.
Setelah mengucapakan salam dan menyapa dewan juri, Taupan diam sejenak sambil
menunduk. Mulutnya komat-kamit seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. Juri
berkali-kali mempersilahkan Taupan untuk segera melanjutkan ceritanya. Tetapi
Taupan malah kelihatan semakin bingung. Dian tercengang dan sama sekali tidak
mengerti dengan sikap Taupan. Tanpa
sadar Dian langsung berteriak memberi semangat pada Taupan.
“Ayoo Taupan,
kamu bisaa!“, teriak Dian.
Taupan menoleh sesaat ke arah Dian kemudian kembali
menunduk dengan wajah yang pucat. Sepertinya Taupan lupa dengan apa yang ingin
dikatakannya tentang Ozon. Karena tidak bisa melanjutkan ceritanya, maka dengan
terpaksa dewan juri mempersilahkannya duduk. Taupan segera menuju tempat
duduknya dengan muka pucat.
”Lho Dian,
kamu bilang Taupan jago pidato, tapi kenapa penampilannya begitu?“, tanya Bu
Nadia heran.
“Iya Bu, Dian
juga heran. Kenapa Taupan jadi berubah begitu padahal Dian tahu betul kemampuan
Taupan Bu”, jawab Dian.
Setelah beristirahat sejenak, tampak dewan juri sedang
berembuk untuk menentukan para pemenang. Akhirnya saat yang dinanti-nanti pun
tiba, yakni pengumuman para pemenang. Pengumuman ini dibawakan oleh salah satu
dewan juri yang menilai masalah performens para peserta. Dimulai dari juara
tiga yang jatuh pada peserta ke lima. Juara dua jatuh pada peserta ke lima
belas. Para hadirin seakan menahan napas ketika dewan juri hendak menyebut
juara satu yang ternyata diraih oleh Dian. Sebagian besar hadirin memang sudah
menduga kalau Dian lah yang akan menjadi juara satu setelah melihat penampilan
peserta lain. Dian sangat gembira dan langsung mencium tangan Bu Nadia.
“Makasih
banyak Bu, ini semua Dian peroleh berkat bimbingan dan bantuan Ibu“, kata Dian.
“Kamu memang
pantas jadi sang bintang Nak, Ibu sangat bangga padamu“, jawab Bu Nadia.
Hadiah kemenangan berupa piala, piagam dan uang diperoleh
Dian dengan penuh rasa syukur. Kemenangan ini akan mengantarkan Dian untuk
mengikuti pestival Seni Tingkat Nasinal mewakili daerahnya. Kemenangan yang
telah diperolehnya dari berbagai ajang
perlombaan yang pernah diikutinya menjadikan Dian sebagai bintang yang patut
diacungi jempol. Semoga sang bintang itu senantiasa bersinar yang akan
menerangi kegelapan@
7. LIBURAN YANG MENCEKAM
Ririn tercengang-cengang
seorang diri di dalam bus yang melaju dengan kencang. Ia asyik menikmati
pemandangan alam di sekelilingnya. Sedangkan Rifda tertidur di tempat duduknya.
Merasa
sendirian dikelilingi penumpang yang tidur, akhirnya Ririn membanguankan Rifda.
“Rifda…Rif , ayo bangun dong, kok tidur melulu sih! Coba lihat
dong pemandangan di luar sana ,
amboi indahnya”, kata Ririn.
Ririn terus
memandangi gunung-gunung yang berjejer. Tampak kebirua-biruan dari jauh, sawah
yang berpetak-petak, dan bukit-bukit yang menghijau. Seakarang ia abaru tahu
betapa suburnya alam pedesaan, dan betapa hijaunya alam Indonesia. Maklumlah
Ririn memang orang kota yang baru kali ini menginjakan kakiknya di pedesaan.
Setelah itu, Ririn kembali memandangi Rifda yang tertidur duduk di kursinya dan
berusaha membangunkannya kembali.
‘‘Eeh...kok tidak melek-melek juga, ayo
bangun cepat Rif, nanti kita lewat lho!‘’, kata Ririn sambil menggoyang-goyangkan
bahu Rifda. Akhirnya dengan berat hati Rifda bangun juga sambil menggosok-gosok
matanya, lalu berusaha memperhatikan keadaan sekeliling.
‘‘Masih lama Rin, kira-kira satu kilo
lagi, kita sudah sampai tetapi harus dilanjutkan dengan jalan kaki lagi untuk
menuju Gunung Kariango‘‘, kata Rifda menjelaskan.
Tak lama kemudian,
mereka tampak turun dari bus dan menelusuri jalan setapak menuju Gunung Kariango. Mereka
terlihat lelah membawa ransel mereka masing-masing. Ririn betul-betul menikmati
perjalannanya. Ia berlari-lari di padang
yang luas diantara butir-butir pasir yang bertebaran. Dari jauh ia mendengar
suara gemercik air yang jatuh dari
pancuran. Dikiri kanan jalan
di tumbuhi pohon jati dan pohon mahoni yang rimbun. Anak-anak pedesaan tampak
berlaraian keluar dari rumah mereka memperhatikan Ririn dan Rifda berlalu dari
depan rumahnya.
‘‘Rin, di depan kita akan menyeberang
sungai, asyik loh“.
‘Tapi aku takut
Rif, kalau kenapa-kenapa bagaimana
dong“.
‘‘Jangan khawatir, tidak ada apa-apa. ini
kan sudah daerahnya kakek. Semua penduduk sini kenal sama kakek“.
Dari jauh tampaklah
Gunung Kariango yang menjulang tinggi. Tanaman jagung tampak berbaris rapi dari
kejauhan dan menghadirkan rasa damai.
‘‘Rin, itu sana Gunung Kariango, di kaki
gunung itulah rumah Kakek berada. Di balik gunung itu terdapat asrama tentara
Kostrad. Kalau mereka latihan suara tembakannya sangat dekat kedengaran Rin‘‘,
kata Rifka.
“Kakek Nenek tidak
takut peluru nyasar apa?“, tanya Ririn.
“Tidaklah,
para tentara itu berlatih di tempat khusus jadi suaranya doang yang kedengaran
dari balik gunung ini”,jawab Rifda.
Setelah melewati ladang jagung, sampailah mereka di
mata air yang sangat jernih. Ririn segera merebahkan badannya di atas sebuah
batu besar yang terdapat dekat mata air
itu sambil memandang ke atas pohon-pohon besar yang menjulang tigngi. Setelah
puas menikmati suasana air terjun, Ririn segera menyusul Rifda yang mengambil
air di semburan mata air dan membasuh wajahnya. Keduanya tampak berbahagia
menikmati panorama alam yang sangat berbeda dengan suasana kota . Bising oleh hiruk pikuk kendaraan serta
udara yang tidak segar karena sudah tercemar. Bagi Ririn ini adalah pengalaman
yang baru di alaminya.
‘‘Nah
kamu dengar suara kokok ayam kan
Rin?, itu suara ayam Kakek, kamu lihat atap rumah itu?. Nah itulah rumah kakek“.
“Berarti
kita makin dekat dong“.
Mereka berajalan ke rumah Kakek sambil
mengibas-ngibaskan daun jagung dari tempat yang di laluinya. Dan akhirnya
mereka sampai juga. Kakek dan Nenek menyambut kedatangan mereka dengan gembira.
Apalagi Rifda adalah cucu pertama mereka yang hanya datang jika sedang libur
panjang. Oleh Kakek dan Nenek Ririn dan Rifda di suguhi berbagai makanan dan
buah-buahan yang masih sangat segar. Mereka pun melahapnya dengan tenang. Mereka kemudian beristirahat hingga
malam tiba. Mereka betul-betul merasakan kesunyian yang sangat berbeda dengan
suasana kota. Malam itu pun berlalu dengan damai di iringi nyanyian burung
malam dan hembusan angin pegunungan yang sangat sejuk. Keesokan harinya, kakek
berpamitan pada mereka untuk mengikuti acara syukuran di perkampungan sebelah.
Kakek dan Nenek pun berpamitan akan mengunjungi tetangga yang ada di seberang
dan berjanji tidak akan lama. Tinggalah Rifda dan Ririn di rumah Nenek. Tak
terasa malam semakin larut. Jam tangan Ririn menunjukan pukul sembilan lebih
lima belas menit. Rumah Nenek hanya diterangi lampu minyak. Rifda sudah
terbiasa dengan keadaan itu. Keterlambatan Kakek dan Nenek membuat mereka mulai
was-was, terutama Ririn si pendatang baru.
Entah apa yang
mengganggu, tiba-tiba suara itik, ayam, dan anjing Kakek pada ribut. Sejenak
Ririn mendongakan kepala. Ririn lalu mengibaskan selimut yang menutupi separuh
badannya lalu melompat ke dekat Rifda yang asyik membolak-balik majalah yang di
bawahnya.
‘‘Rif...aku takut sekali, Kakek perginya
lama sekali ya?“, bisik Ririn.
“Ah, tidak usah takut, tidak
ada apa-apa. Sebentar juga ternak Kakek pada diam kok, sebentar juga
Kakek Nenek datang“, Jawab Rifda.
Rifda terus membujuk Ririn yang mulai panik, tetapi
apa yang dikataka oleh Rifda justru sebaliknya. Suara dari kolong rumah makin
ribut. Dalam hati Rifda pun mulai cemas. Tetapi ia berusaha menyembunyikan
kecemasannya karena tidak ingin membuat Ririn semakin panik.
‘‘Rif ... mana senter Kakek, cepat cari‘‘, bisik Ririn.
‘‘Ia Rin
sabar yaa?‘‘, kata Rifda gugup.
Rifda berusaha menacari senter Kakek sambil
meraba-raba di bawah meja dekat tempat tidurnya. Setelah mendapat senter itu,
Rifda mulai menyenter ke sekeliling dan sudut-sudut ruangan dikuti oleh mata
Rifda yang dari tadi tegang. Tanpa
berfikir panjang, Rifda langsung mengerjakan perintah Ririn. Kemudian secara
bersamaan mereka tersentak kaget.
“Apa itu
Rif?, melingkar dan berkilau-kilau?, tanya Ririn penasaran.
“Tidak tahu
Rin, tidak jelas“, jawab Rifda sambil menggosok matanya.
‘Haa?! se..seperti
u...ular besar Rin, tapi masak sih
mungkin aku salah lihat Rin“,kata Rifda tegang.
“Ia
Rif, itu memang ular. Sana
ekornya tapi kepalanya mana?”, tanya Ririn panik.
Ririn
hampir saja melompat kalau tidak segera di cegah oleh Rifda.
‘‘Tenang Rin, jangan membuat ular itu
kaget. Kita harus turun dari rumah tanpa sepengetahauan ular itu‘‘, kata Rifda
berbisik.
Kepanikan sudah memenuhi seluruh ruang hati Rifda
dan Ririn. Mereka berusaha menenangkan diri sambil berdoa’a. Ia ingat do’a yang
pernah di ajarakan oleh guru agamanya ketika sedang melihat binatang buas yaitu
salaamuun alaa nuuheen. Untuk sementara, ular besar itu sedang sibuk mengincar
itik Nenek. Dalam suasana remang-remang, Rifda dan Ririn berusaha mendekati
pintu sambil meraba-raba. Tanpa sengaja, Ririn menabrak bangku sehingga
menimbulkan suara gaduh. Hampir saja Ririn berteriak keras kalau Ririn tidak segera
menutup mulutnya. Perlahan-lahan sang ular bergerak. Rupanya sang ular menarik
naik kepalanya dan muncul di dekat lingkaran badannya. Rifda dan Ririn
menghentikan langkahnya. Mereka berdiri mematung di dekat pintu tanpa berani
membuka pintu yang terkunci itu. Sekujur tubuh mereka basah oleh keringat.
Mereka tahu betul kalau ular itu adalah ular ganas dan berbisa serta dapat
meremukkan tulang belulang mereaka dalam waktu sekejap. Dalam hati mereka
berharap semoga Tuhan mendengar do’a mereka sehingga ular itu segera pergi
membawa itik yang sudah dimangsanya. Tetapi ular itu makin menegkkan kepalanya dengan posisi siap menyerang.
Lidahnya yang bercabang dijulur-julurkan sambil mendesis. Perlahan-lahan Rifda
dan Ririn mundur. Rifda berusaha menarik balok yang ada di dekat pintu. Dalam
benak Rifda terfikir ia akan menghantam ular itu dengan balok kalau sampai
menyerangnya. Ular itu kemudian secara pelan-pelan menurunkan kepalanya dan
menyusupkannya ke dalam kandang, demikian juga lingkaran badannya perlahan-lahan
tertarik kebawah hingga sampai ekor. Sesaat kemudian, itik nenek semakin gaduh
dan lari terbirit-birit diikuti suara jeritan melengking seekor itik betina
Kakek. Rupanya itik itu berhasil ditangkapnya. Ular itu kemudian merayap keluar
meninggalkan kandang membawa mangsanya dan menyusup di sela-sela rerumputan
hingga menghilang di balik pepohonan. Rifda dan Ririn memperhatikan kepergian
ular itu dengan sorotan senternya. Napas mereka seakan tertahan sampai ular
tidak terlihat lagi. Rifda dan Ririn berpelukan gembira. Sejuta rasa syukur
terucap di hati mereka, karena Tuhan telah melindungi mereka dari bahaya yang
baru saja mengancam keselamatannya. Hati Rifda dan Ririn pun semakin legah
setelah Kakek dan Neneknya sudah datang. Mereka menceritakan kejadian mencekam
yang baru saja di alaminya. Kakek dan Nenek pun sangat berbangga karena Rifda
da Ririn adalah anak yang sangat pemberani. Akhirnya malam yang menegangkan itu
berlalu kemudian berganti dengan nyanyian burung malam yang diselingi gesekan
dedaunan di tiup angin malam pegunungan. Ririn dan Rifda terlelap di bawah
selimut yang menghangatkan tubuhnya sambil menanti kicauan burung menyambut
mentari pagi@
8.
JAKET BIRU
Sejak semalam, Nida
sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya esok pagi pulang kampung
alias mudik. Nida memang sudah lama tidak pulang. Untuk itu, menejelang lebaran
tahun ini dimanfaatkannya untuk pulang menemui orang-orang yang sangat
dicintainya. Jarak antara kota Makassar dengan kampungnya kurang lebih empat
ratus kilo meter. Ia sengaja disekolahkan disalah satu sekolah terbaik di kota
itu karena prestasi Nida yang sudah terlihat sejak SD. Oleh orang tuanya yang
ingin menambah wawasan dan kemajuan anaknya, maka di sekolahkanlah putri semata
wayangnya itu di sekolah Paforit tersebut. Hari ini adalh hari yang paling
ditunggu-tunggu oleh Nida. Tidak lupa ia membawa buku pelajaran lengkap dengan
catatan-catatannya untuk mengerjakan tugas masa liburan yang telah diberikan
oleh gurunya. Nida memang anak yang rajin dan cekatan dalam memanfaatkan waktu.
Ia teringat betul nasehat dari para gurunya yang mengatakan bahwa waktu adalah
kesempatan. Selain itu, bagi Nida waktu adalah ibadah. Jadi membuang waktu berarti
menyia-nyaiakan kesempatan. Dan waktu yang telah berlalu tidak akan terulang
walau sedetik pun.
“Nida...Niid...ayo cepat bangun, katanya mau cepat-cepat ke
terminal sudah jam 7!”, teriak tantenya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Nida yang masih mendengkur di dalam kamarnya samar-samar mendengar teriakan
tantenya. Ia kemudian membuka matanya dan langsung menatap jam dinding di
kamarnya. Matanya terbelalak ketika melihat jarum panjang jamnya sudah menunjuk
angka 7. Setelah terdiam sejenak, ia langsung mengibaskan selimut yang menutupi
badannya kemudian buru-buru ke kamar mandi. Tedengar air yang diguyur membasahi
badan Nida. Setelah itu, ia tampak buru-buru dari arah kamar mandi.
„Ah, seharusnya sehabis shalat shubuh tadi aku nggak usah tidur. Aku bisa
telat nih, giamana kalu bus yang udah aku pesan keburu pergi?,“ kata Nida
membatin.
Setelah berpakaian
rapi dengan kerudung warna biru yang semakin mempercantik parasanya, ia
berpamitan pada tantenya. Nida terlihata membawa sebuah tas dan ransel yang
menggantung rapi di punggunya. Ia keluar dari jalan besar dan menyetop Taxi
Gowata yang akan membawanya menuju terminal Regional Daya. Sekitar
dua puluh menit dalam Taxi, sampailah ia di Terminal. Sambil tergopoh-gopoh ia
melangkah ke tempat Bus yang biasa mengantarnya. Dengan penuh selidik matanya nanar seperti mencari
sesuatu. Sekilas Nida tersenyum kecil ketika Bus yang dicarinya sudah terlihat.
‘’Ahaa,
itu dia Bus Surya Litha langganan aku. Alhamdulillah aku tidak terlambat. Tapi
wah busnya penuh sekali’’, kata Nida dalam hati.
“Bismillahi
rahmani rahiim”, itulah kata yang diucapkan Nida ketika melangkahkan kaki
kanannya menaiki Bus. Sambil menjinjing tasnya, ia memperhatikan kursi yang
kosong. Terlihat wajah cantiknya tampak cemberut karena impiannya untuk duduk
di barisan depan dekat jendela tidak terpenuhi. Nida malah mendapat kursi yang
terdapat di jok paling belakang. Dengan berat hati dihempaskannya pantatnya di
kursi itu sambil menarik napas panjang. Mau tidak mau, suka atau tidak suka apa
boleh buat, tidak ada pilihan lagi. Nida menyadari bahwa setiap kendaraan umum
selalu kebanjiran penumpang disaat menjelang hari Raya seperti yang dialaminya
hari ini. Perlahan-lahan Bus mulai melaju meninggalka area terminal dan makin
lama makin kencang. Tanpa terasa bus sudah meninggalkan Kota Makassar dan
memasuki Kabupaten Maros. Nida selalu memperhatikan setiap Kabupaten yang sudah
dilaluinya. Untuk mengusir kejenuhannya, Nida mengeluarkan Novel Laskar Pelangi
karya Andrea Hirata yang belum selesai dibacanya. Ia sangat tertarik dengan
Novel itu yang menceritakan perjuangan seorang guru di suatu tempat yang terpencil. Nida juga memiliki
Novel lain yang lagi terkenal di samping koleksi buku lainnya yang memenuhi
lemari bukunya. Baginya, buku adalah jendela dunia. Makanya tidak heran jika
usianya masih empat belas tahun tetapi wawasan berfikirnya sangat luas sehingga
rengking satu tidak pernah terlepas dari genggamannya. Nida menghabiskan waktunya dalam Bus dengan
terus membaca hingga tampak sesekali menutup novelnya sambil bersandar menutup
mata. Ia merasa sedikit pusing. Mungkin karena penumpang terlalu banyak, Ac Bus
kurang kencang, dan dia duduk di jok paling belakang.
‘’Ya
Allah, kenapa perasaanku tidak enak begini?, aku kan tidak pernah mengalami perasaan seperti
ini sebelumnya apa karena aku tidak sempat sarapan?”, kata Nida dalam hati.
Setelah tiga jam perjalanan, perasaan Nida semakin
tidak karuan. Aroma peluh dari para penumpang yang berdesakan membuatnya
semakin pusing. Ia menoleh ke kiri kanan tetapi para penumpang asyik dengan
dirinya sendiri. Ada
yang memandang ke luar jendela, ada juga
yang tertidur lelap. Rupanya dia sendiri yang asyik membaca sampai rasa pusing
memaksanya menghentiakan bacaannya.
Perasaan Nida semakin tidak terkendali. Keringat dingin bercucuran di
keningnya sehingga ia mengambil ujung kerudungnya dan melap lembut keringat di
keningnya. Nida mual dan merasa hendak muntah. Cepat-cepat ia membuka ransel
dan mengambil kantong palastik kecil yang terlipat rapi dalam tasnya. Tak lama
kemudian terdengar suara Nida di antara kesunyian.
“Uuoooaak…uoooaaak…”,Nida
muntah. Penglihatannya
berputar-putar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Nida berusaha
menjaga keseimbanmgan tubuhnya kemudian berusaha menelungkupkan kepalanya di
belakang jok kursi di depannya sambil memejamkan mata. Nida kemudian
mengeluarkan air minum Aqua dari dalam ranselnya. Tiba-tiba ia mendengar suara
seseorang.
“Dik…Dik…kamu tidak apa-apa kan?”.
Nida tidak
menghiraukan suara itu karena merasa tak mengenal siapa pun dalam bus itu. Lagi
pula suara itu kembali terdengar olehnya dan disertai tepukan lembut di
bahunya.
“Maaf Dik...kamu baik-baik saja?“ tanya
orang itu lagi.
Nida berusaha
mengangkat wajahnya mencari sumber suara itu. Nida terperanjat ternyata yang
menegurnya seorang cowok. Wajahnya tampan, cool mirip sekali dengan tokoh Fahri
pemeran film Ayat-Ayat Cinta yang pernah ditontonnya. Nida berusaha tersenyum
walau wajahnya terlihat pucat, ia tetap berusaha ramah terhadap orang yang
telah menawarkan pertolongan kepadanya.
“Oh iya Kak...aku tidak apa-apa, hanya
sedikit pusing dan mual“, jawab Nida.
‘‘Begini, Adik pindah ke tempat duduk
saya di depan sana. Kita tukaran, biar Aku yang duduk di sini. Jok belakang
kadang memang bikin mabuk“, kata cowok itu.
‘‘Oh...tidak usah Kak, aku baik-baik saja
terimakasih“. Jawab Nida.
“Ayolah Dik, tidak usah malu, siapa tahu
di depan sana kamu akan jauh lebih baik“, kata cowok itu lagi.
Sebenarnya dalam hati
Nida sangat gembira karena tempat duduk di depan sudah diinginkannya sejak
awal. Tetapi keadaan memaksanya untuk harus duduk di belakang. Karena tidak
ingin mengecewakan orang yang telah menawarkan pertolongan padanya, maka dengan
wajah malu-malu Nida pun berpindah tempat duduk. Sebelum menduduki kursinya, ia
sempat menoleh ke belakang memeperhatikan cowok yang telah menolongnya.
Terlihat cowok itupun sedang duduk di tempat duduk Nida. Benar juga, di tempat
duduk yang baru Nida merasa agak baikan. Dalam hati ia bertanya-tanya cowok itu
baik sekali padanya padahal ia sama sekali tak mengenalnya. Melihatnya pun baru
kali ini. Nida kemudian dikagetkan oleh suara cowok itu lagi.
“Dik, ini jaket saya. Kamu boleh pake
supaya badan kamu hangat yaa“, kata Cowok itu sambil menyodorkan jaketnya.
Nida merasa
mendapat pertolongan yang beruntun. Sementara masih memikirkan pertolongan yang
pertama, datang lagi pertolongan yang kedua. Hal ini membuat Nida makin bingung
sehingga membuatnya tak mampu untuk menolak. Diliputi perasaan gembira Nida
kemudian menutupi badannya dengan jaket berwarna biru itu sambil bersandar.
Sesekali ia menoleh ke belakang melihat cowok yang telah menolongnya. Dalam
hati ia bersyukur dan juga heran, ternyata di jaman sekarang dengan budaya
individualistis yang mulai menjalar ke dalam hati setiap orang, toh masih ada
orang yang berhati mulia yang mau menolong sesama dengan ikhlas.
‘‘Minggir
Bang“, teriak seseorang.
‘‘Rasanya Aku
kenal dengan suara itu‘‘, kata Nida dalam hati.
Bus
pun merapat ke pinggir jalan pertanda seseorang akan turun.
“Dik,
saya sudah nyampe, oya nama saya Ryan, kamu siapa?”, tanya cowok itu.
“Aku Nida, oya Kak, makasih banyak atas
segala pertolongannya,” kata Nida.
“Iya Dik, sama-sama. Duluan yaa. Selamat
jalan Dik moga sampai di tujuan dengan selamat”, kata Ryan sebelum melompat
turun dari Bus.
Tiba-tiba Nida
teringat akan jaket biru di badannya. Cepat-cepat ia berdiri dan melongokan
kepalanya di jendela sambil berteriak.
“Kak...Kak Ryan...jaketnya Kak“, teriak Nida.
Ryan yang mendengar
teriakan Nida menoleh sambil menjawab dengan lambaian tangannya.
“Buat Adik Nida aja. Dirawat yaa?“, teriak
Ryan.
Nida masih berdiri
di dekat jendela hingga Bus menjauh dan Ryan tidak terihat lagi. Bus
pun melaju kencang. Tak terasa butir-butir air mata Nida menetes di pipinya. Ia
teringat dengan Kakaknya yang mirip Ryan namun sudah meninggal akibat
kecelakaan. Selain itu Nida juga menangis karena terharu akan kemuliaan hati
Ryan yang telah menolongnya. Nida hanya berharap semoga dapat bertemu kembali
dengan Ryan dan juga Tuhan membalas segala kebaikan dan kemuliaan hati Ryan. Ternyata kebaikan yang nyata masih ada di jman
yang serba individualistis seperti sekarang ini. Dalam hati Nida berjanji akan
merawat jaket biru itu, atas permintaan terakhir orang yang telah menolongnya@











Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
