• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Welcome to our website

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut.
  • Fully Responsive

    • Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
  • Friendly Support

    • Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
  • Maximum Results

    • Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part
  • Super image

    • Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est lone part Read More

KUMPULAN CERPEN TEMBANG DUKA






KUMPULAN CERPEN 

TEMBANG DUKA

1.       ­DIARY ATIKA

Sekarang  Kakak Atika telah banyak berubah. Sikapnya yang selalu riang, berubah menajadi seorang pemurung. Kakak yang rajin beraktivitas menjadi pendiam. Malahan Kakak makin sering merenung di dalam kamar seorang diri. Keadaan Kakak semakin tidak karuan. Aku dan ibu sangat khawatir melihatnya. Keadaan ini semakin berlarut-larut sehingga ibu sangat mencemaskannya dan mengutarakan kekhawatiran ibu pada Kakak Atika.
      “Ibu lihat, akhir-akhir ini kamu banyak berubah Nak“, kata ibu.
      “Aku tidak apa-apa kok Bu, aku baik-baik saja!“, jawab Kakak sambil tersenyum.
       “Tapi mengapa kamu selalu termenung, apa kamu punya masalah Nak?, ayo ceritakan ke ibu, siapa tahu ibu bisa membantu“.
      “Mungkin aku kecapean saja Bu,“.
       “Kalau begitu, kamu harus banyak istirahat supaya kamu segar kembali“ kata ibu sambil tersenyum.
Aku memang keluarga miskin.  Ayah sudah lama meninggal dunia. Kini tinggal ibu seorang diri yang merawat dan membesarkan aku dan Kakak Atika.
Untuk mencukupi kebtuhan hidup, ibu menanam sayur-sayuran yang   hasilnya sangat pas-pasan. Untunglah aku dan kakak bersekolah di SMP Terbuka. Walaupun demikian, biaya hidup sehari-hari tetap aja terasa mencekik. Untuk itulah kakak Atika berusaha membantu ibu dengan menjadi tukang cuci di beberapa rumah tetangga. Penghasilannya lumayan cukup buat keperluasn dapur. Aku sendiri terkadang heran dengan keadaan Kakak. Sebelumnya  Kakak Atika sanggup berjalan kaki dari rumah ke sekolah setiap hari. Tetapi sekarang, jangankan berajalan kaki, duduk berlama-lama di bangku sekolah pun terasa berat. Badannya lemas, kepalanya berat, dan penglihatannya berkunang-kunang. Dan...bruughh!..., Kakak Atika jatuh pingsan. Teman-teman sekelasnya berusaha membantunya membawa ke ruang UKS untuk menadapatkan pertolongan. Sudah tiga bulan Aku melihat keadaannya. Aku tahu bahwa kakak  mungkin mengidap suatu penyakit. Entah penyakit apa. Tetapi apapun penyakitnya itu, yang jelas sangat merenggut kekuatan dan pertahanan tubuhnya. Sudah tiga kali ia pingsan di sekolah. Aku sangat kasihan pada kakak. Tetapi kakak melarang aku menceritakan kejadian ini pada ibu. Kakak takut kalau ibu khawatir. Dengan  berat hati aku menyanggupi permintaan kakak. Tetapi naluri seorang ibu,tetap aja dapat membaca dan merasakan keadaan anaknya. Ibu tahu, ada sesuatu yang tidak beres dengan kesehatan kakak karena berat badan kakak terus menurun. Tetapi ibu tidak punya biaya. Ibu kemudian mengantar Atika ke puskesmas untuk diperiksa. Perawat di puskesmas hanya memberi Atika obat penambah darah. Katanya Atika kurang darah, dan menganjurkan Atika supaya memeriksakan diri ke rumah sakit. Ibu Atika pun mengiayakan, walau di dalan hatinya tetap saja merasa kalau itu pekerjaan yang terasa amat berat. Biaya rumah sakit sekarang sangat mahal. Atika sangat memahami perasaan ibu.
      “Akh..!, mengapa aku menjalani hidup yang sesusah ini..?, mengapa untuk mendapatkan sesuap nasi saja terasa sulit?, aku sangat kasihan melihat keadaan Kakak. Kondisi kesehatannnya makin memburuk. Badannya makin kurus, mukanya pucat, matanya cekung, dan rambutnya berguguran. Sekarang Kakak sudah sangat lemah. Wajahnya yang cantik dan ceriah perlahan-lahan berubah, seperti berubahnya siang berganti malam. Kakak tidak kuat lagi ke sekolah dan lebih banyak mengurung diri serta meringkuk di dalam kamarnya yang sempit. Hanya ada satu hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh kakak yaitu shalat. Kakak sangat rajin melaksanakannya. Bahkan tiap malam ia terbangun dengan langkah tertatih-tatih mengambil air wudhu. Kadang aku juga heran, dalam keadaan biasa Kakak sangat susah begerak, tetapi dalam melaksanakan shalat Kakak dapat tahan berlama-lama melaksanakannya. Hingga di suatu pagi, kudapati Kakak pingsan lagi. Aku dan ibu berusaha membuat Kakak siuman. Aku menangis begitu juga ibu. Tak lama kemudian, kakak Atika siuman. Ia membuka matanya yang cekung. Sekilas senyum tersungging di bibirnya. Aku melihat wajah Kakak begitu bercahaya. Aku sangat bergembira karena berfikir Kakak akan segera sembuh. Ibu terus membelai rambut Kakak, sementara aku memijat tangannya. Atika kemudian menatap ibu dengan mata yang senduh.
      “Ibuu... Atika tidak kuat lagi Bu...Atika capek Bu, A...Atika mau istirahat.“, bisik Atika dengan napas tersengal-sengal.
      “Jangan pergi Nak, jangan tinggalkan ibu dan adikmu...kalianlah harapan ibu Nak, kalianlah yang membuat ibu tetap bahagia walau hidup kita dihimpit derita Nak...“,jawab ibu sambil menangis.
Atika kemudian mengarahkan pandangannya ke arahku menatap Aku dalam-dalam.
      “A...Adik, belajar yang rajin yaah, Atika punya diary... na...nanti kamu boleh membacanya, Ibu... ma...maafkan Atika bu... ma...maafkan Atika Dik“.
Setelah itu, aku melihat bibir Atika koma-kamit, diikuti tatapan matanya yang kosong. Atika kemudian terkulai lemas. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun. Kakak Atiaka telah tiada, lama kelamaan sekujur tubuhnya semakin dingin dan kaku. Aku dan ibu menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh kakak yang kaku. Aku kemudian segera berdiri dan mencari diary kakak sesuai pesan terakhirnya. Aku sangat ingin segera mengetahuinya isi goresan pena Kakak dala diary yang disimpannya. Aku membuka lemari kakak tetapi diary itu tak kudapatkan di sana. Aku kemudian mencarinya di dalam laci, dan...ternyata aku menemukannya. Sebuah buku diary warna pink tersimpan dengan rapi. Aku sangat penasaran apa isi diary kakak. Lembar demi lembar kubaca, tetapi yang membuatku tersentak kaget adalah lembaran-lembaran terakhir. Dengan air  mata berderai, aku membaca setiap goresan pena Kakak.

Senin, 20 Juli 2007

“Diaryku sayang…                                                                               
Setelah aku menyisihkan sebagian upah mencuciku selama tiga bulan, akhirnya aku memberanikan diri memeriksakan kesehatanku ke dokter. Aku melakukannya seorang diri. Aku tidak mau ibu dan adikku tahu. Aku takut, sungguh…aku takut mendengar vonis dokter. Karena aku sendirian, maka dengan terpaksa dokter memberitahukan langsung akan penyakitku yang sebenarnya. Kata dokter, aku mengidap leukimia atau kanker darah. Dokter juga mengatakan bahwa sekarang sudah stadium akhir. Sel darah merahku hampir tergorogoti semua oleh sel darah putih. Aku sempat menanyakan ke dokter, apakah penyakitku masih bisa disembuhkan?, tetapi kata dokter aku sembuh kemungkinannya kecil. Katanya Aku terlambat berobat, seandainya belum parah, sembuh bisa saja asal rajin berobat dan kemoterapi. Aah...kemoterapi, dengar namanya saja baru kali ini. Dan yang membuat aku hampir pingsan adalah...ketika dokter mengatakan, kalau aku akan bertahan selama tiga bulan lagi, masya Allah...kerongkonganku terasa tercekik mendengarnya. Segawat itukah penyakitku?...bukankah kehidupanku selama ini sudah sakit teramat sakit?..mengapa harus ditambah lagi dengan penyakit yang seharusnya hanya milik orang-orang kaya?... mengapa ya Allah... mengapa?...Astagfirullahul adziim, ampuni aku yang Allah, rasanya aku tak sanggup menghadapi cobaanmu, tapi aku tahu Engkau selalu ada dan melihatku. Untuk itu ya Allah... beri aku ketabahan dan kekutan menjalani semuanya...“.
“Oh diaryku..! “
Aku sangat sedih. Tapi aku harus berjuang. Aku tidak ingin leukimia merenggut nyawakau. Tapi.....? Ya Allah seandainya bisa, aku memohon supaya Engkau memperlambat perputaran waktumu agar aku dapat bertahan hidup lebih lama lagi bersama ibu dan adikku. Aku tidak ingin meninggalkan mereka, aku ingin membahagiakan ibu. Kalau aku telah tiada dengan siapa lagi mereka akan berbagi derita..?. Saat kutulis goresan ini sejuta rasa pilu berkecamuk dalam hatiku.
Diaryku…doakan yaa, semoga aku cepat sembuh…semoga apa yang dikatakan dokter tidak benar“. Amin


Aku membaca lembaran diary kakak dengan air mata yang tumpah.
“Kakak, mengapa kakak sembunyikan semua ini dari aku dan ibu?, mengapa kakak berjuang seorang diri?..mengapa kak..? mengpaaa…?’, ratapku dalam hati. Aku kemudian membaca lembaran terakhir diary Kakak.


                                                               Jum’at, 17 Agustus 2007

“Diaryku sayang…
Aku tahu, hari ini semua orang brgembira, hari ini semua orang bersorak, hari ini Bangsaku mengumandangkan kemerdekaannya.Tapi aku…?, menarik napas aja sangat susah. Aku tahu… tidak akan bertahan lebih lama lagi. Penyakit ini tidak memberiku kesempatan lagi.
“Diaryku sayang…
Mungkin ini adalah goresan terakhirku…aku tidak sanggup lagi berjuang. Sekuat apapun aku bertahan, ternyata… Leukimia… tetap aja lebih kuat dariku…
“Diaryku sayang…
Aku sangat berat meninggalakan ibu dan adikku, aku tidak mau membuat mereka sedih. Keadaan hidup kami yang pahit selama ini sudah cukup menjadi sumber derita, ibarat hidup di dalam kolam penderitaan yang tidak bertepi. Aku yakin suatu hari nanti keadaan ibu dan adiku akan membaik. Tetapi …saat hari itu tiba,… mungkin aku tak lagi bersama mereka,dan bearada di tempat yang jauh….aku hanya berharap semoga adikku senantiasa membantu dan merawat ibu selamanya…
“Aaakh…diaryku…
Andaikan kau lihat tubuhku yang kurus dan mataku yang cekung…
Andaikan kau bisa mewakili aku meminta maaf pada teman, guru, ibu, dan adikku...
Andaikan kau bisa merasakan, betapa penjemputku semakin dekat..
Anadaikan kau bisa melihat, betapa jari-jariku tak kuat lagi menyanggah pena untuk meneruskan goresan ini...
Andaikan bisa membantu aku melapangkan jalanku menghadapi maut...
Maafkan...maaaa...fffkaan....“.

Semakin lama, tulisan kakak semakin tidak terbaca. Mungkin kakak menulisnya sesaat sebelum pingsan kemudian buru-buru menyimpannya ke dalam laci. Akh Kakak, ternyata derita yang kau alami jauh lebih perih dari pada derita yang menghimpit hidup kita selama ini. Keesokan harinya, aku mensiarahi kuburan Kakak Atika. Kulihat gundukan tanah yang masih merah. Kutaburkan bunga di atas pusaranya, kubacakan fatihah, lalu kupanjatkan do’a buat Kakak Atika. Dalam hati aku berbisik ‚‘‘Kakak sekarang Engkau tidak menderita lagi. Kini engkau telah bebas dari segala derita. Aku janji akan merawat dan membantu ibu seperti permintaan yang tertulis di dalam diary Kakak.
Beristirahatlah dengan tenang, semoga damai di sisi-Nya. Amin@






2.       TRAGEDI

Desa Damai adalah desa kelahiran Arif Rahman. Di desa yang subur itu, Arif tampak sedang menggembalakan dua ekor sapi kesayangannya. Ia duduk di atas dahan sebatang pohon sambil meniup seruling bambu yang selalu ia bawa. Arif mengenakan celana pendek warna coklat, dan baju kaos oblong warna putih yang sudah berubah warna krem dan beberapa lobang di bagian depannya. Ia juga selalu memakai tutup kepala yang terbuat dari anyaman daun lontar yang di desanya dinamakan saraung. Benda itu sangat membantu melindungi wajahnya dari sengatan terik matahari maupun derasnya hujan.
      “Rado...Lulung...jangan jauh-jauh merumputnya ya, sebentar lagi kita akan segera pulang“, teriak Arif dari atas pohon.
Kedua binatang yang sedang asyik merumput itu tampak mengangkat kepala begitu mendengar namanya dipanggil. Kedua binatang itu seakan mengerti apa yang dikatakan oleh Arif. Arif selalu menikmati kegembiraan bersama sapi kesayangannya setiap hari sepulang sekolah.
Sekarang sudah musim penghujan. Pepohonan dan rerumputan tampak menghijau. Daun-daun yang berguguran di musim kemarau kembali bersemi dan tampak menghijau diterpa sinar matahari.
 Arif dan ayahnya pun sudah bersiap untuk menggarap tiga petak sawah miliknya. Seperti tahun sebelumnya, Arif selalu membantu pekerjaan ayahnya. Ia anak yang sangat rajin. Selain itu Arif juga termasuk siswa yang pandai di sekolahnya. Walaupun selalu membantu ayahnya, tetapi ia tidak pernah mengabaikan tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya. Terkadang pula ia membawa buku pelajaran ke tempat gembalaannya. Untuk itu dikalangan teman dan gurunya, ia mendapat gelar “si gembala cerdik“.
      “Arif, besok ayah bangunkan pagi-pagi sekali ya? supaya kita cepat sampai di sawah“, kata ayah Arif.
      “Iya ayah, Arif juga pengen cepat supaya tidak telat sampai sekolah”, jawab Arif. Suara adzan subuh membuat Arif dan ayahnya terbangun. Setelah menunaikan shalat subuh, Arif dan ayahnya sudah meninggalkan rumah menuju sawahnya. Ayah Arif berjalan di depan sambil membawa peralatan membajak sawah sedangkan Arif menghalau Rado dan Lulung serta membawa makanan untuk bekal. Mereka menyusuri pematang sawah. Tampak genangan air memutih menyerupai hamparan permadani. Sesekali Arif berlari sambil mempermainkan air yang ia lalui. Pagi itu udara sangat dingin. Dusunnya yang sunyi masih tampak tertutup kabut saat ia sudah terdengar memangil nama sapi kesayangannaya. Setelah lama berjalan dan melewati beberapa petak sawah, akhirnya sampailah ia ke sawahnya. Arif segera menuju ke dangau tempatnya untuk menyimpan bekal dan air minum yang ia bawa. Walaupun dangaunya kecil tetapi cukup untuk beristirahat dan berlindung dari hawa panas dan dingin. Ayah sedang memasang alat pembajak pada Rado dan Lulung. Kedua binatang itu berdiri tenang menggerakkan ekornya sambil menunggu aba-aba dari majikannya.  
     “Ayo Rif bantu ayah memasang kedua kayu ini di leher Rado dan Lulung“.
      “Baik Yah“.
      “Kayunya angkat sedikit, yap ...nah sudah beres. Kedua sapi itu sudah siap untuk membantu pekerjaan Arif dan ayahnya.
      “Ayah, kapan ya kita membajak sawah pake traktor kan tidak repot lagi. Selain itu waktunya lebih cepat sehingga meggarapnya cepat beres yah”.
      “Wah!, traktor harganya mahal Nak, lebih sepuluh juta. Petani kecil seperti kita belum mampu untuk membeli traktor. Biaya pupuk dan pestisida aja mahal, bagi ayah ada yang bisa kita makan dan juga biaya sekolahmu sudah membuat ayah senang Nak. Kamu juga harus memelihara tanah kita ini karena cuma tanah ini yang bisa ayah wariskan untuk kamu dan Ibumu Nak.  Selain itu, seharusnya di desa kita ini ada penyuluh pertanian supaya hasil panen kita meningkat. “, kata ayah tenang.
      “Itukan harus dilakukan oleh seorang Insinyur Pertanian Yah“.
      “Itu dia masalahnya, di desa kita ini belum ada yang menjadi Insinyur Pertananian. Ayah mengharap Insinyur Pertanian itu adalah kamu Nak, Tapi…apa ayah bisa melihat kamu meraih gelar itu ya?”.
      “Iya Yah, makanya Arif pengen jadi Insinyur Pertanaian supaya bisa memberikan penyuluhan kepada para petani tentang cara bertanam yang baik sehingga dapat membangun desa kita dikemudian hari Yah. Tapi ayah kok ngomongnya gitu sih“, kata Arif heran.
      “Tidak, ayah hanya sekedar mengingatkan kamu Nak, dan kamu memang harus sekolah supaya lebih maju, jangan seperti ayah yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Arif, rasanya ayahlah yang paling bangga kalau kelak kamu menjadi Insinyur Pertanian. Kamu jangan pernah seperti ayah yang cuma bisa jadi petani miskin seperti sekarang Nak.
Arif, kamu bisa pulang sekarang supaya kamu cepat-cepat ke sekolah. Jangan lupa sepulang sekolah kamu ke sini jaga Rado dan Lulung ya?“.
 Arif menangkap nada kegetiran di balik kata-kata ayahnya. Setelah mendapat perintah, Arif segera berlari meninggalkan ayahnya. Ia menelusurui kembali jalan yang telah dilaluinya tadi subuh untuk menuju ke rumahnya untuk bersiap-siap ke sekolah. Sepulang sekolah, Arif shalat duhur, makan siang, kemudian segera menemui ayahnya yang membajak sawah sampai jam sepuluh pagi. Setelah itu, Rado dan Lulung dibiarkan istirahat di bawah pepohonan yang tak jauh dari sawah sambil merenggut rumput yang hijau. Setelah sampai di dangau, ayah Arif pulang. Giliran Ariflah yang menjaga kedua sapi itu sampai petang.
Sawah Arif sudah siap di tanami padi setelah dibajak selama dua hari lamanya. Hari ini cuaca mendung, awan hitam tampak bergantung di angkasa. Suara guntur pun terdengar pertanda hujan akan segera turun. Gunung Bulu Saraung yang tinggi menjulang tertutup awan hitam. Beberapa petani tampak pulang sedangkan yang lain tetap meneruskan peekerjaannya. Sama halnya dengan Arif dan ayahnya yang tetap membungkuk menanam padi. Sesekali Arif menatap puncak gunung itu sambil mengeluh dalam hati.
      “Biarlah hujan deras asal jangan guntur, karena aku sangat takut pada suara guntur“, bisik Arif dalam hanti.
Arif dan ayahnya kemudian memakai mantel yang sudah dipersiapkannya. Bagi mereka berdua, hujan bukanlah penghalang untuk bekerja.
Tak lama kemudian hujan pun turun disertai angin yang bergemuruh.  Pucuk pohon meliup-liup di tiup angin. Derasnya hujan membuat Arif tidak bisa melihat karena jarak pandang terganggu oleh derasnya hujan.
      “Arif, ayo cepat ke dangau Nak, hujannya deras sekali nanti kamu sakit“.
      “Iya Yah, tanggung tinggal dikit”.
 Makin lama hujan makin deras. Butir-butir hujan menimpa tubuhnya disertai guntur yang menggelagar. Arif dan ayahnya masih terus membungkuk menanam padi karena ingin menghabiskan yang masih tersisa di gemgamannya.
      “Arif, ayo bernaung dulu di dangau Nak, ntar ayah nyusul”.
      “Baik ayah”. Arif segera berjalan untuk menuju dangau tempat istirahatnya. Guntur bersahut sahutan disertai kilatan kilat yang menerangi areal persawahan. Sesampai di dangau, Arif memperhatikan ayahnya dari jauh. Ia kemudian teringat pada pelajaran geografinya bahwa tidak baik berada di tanah lapang ketika sedang hujan karena dapat kesambar petir. Untuk itu Arif segera memangil ayahnya untuk berteduh di dangau.
      “Ayah...ayah! cepat ke sini ntar aja dilanjut”, teriak Arif.
Suara Arif timbul tenggelam diantara suara hujan yang bergemuruh. Ayah Arif tampak berjalan menuju dangau ketika kilat disertai suara guntur yang menggelegar membahana seketika. Langit seakan terbelah, tanah seakan terbongkar. Arif menutup mata karena ketakutan sambil menarik nafas. Ia membuka mata kemudian mencari-cari ayahnya yang tidak dilihatnya lagi.
      “Ayaah...ayaaah.....ayah di manaa?!“, teriak Arif.
Arif segera meninggalkan dangau menuju ke sawah sambil berteriak-teriak. Dari kejauhan Arif melihat sesuatu. Perasaan Arif tidak enak, dadanya berdegup kencang. Ia takut kalau terjadi sesuatu pada ayahnya. Ia segera berlari mendekati apa yang dilihatnya. Langkah kakinya berhenti begitu melihat ayahnya terlentang di pematang sawah. Arif berjongkok sambil menggoyang-goyakan tubuh ayahnya.
      “Ayaah...ayah bangun! Ayaaaah banguun yah huuuuk“, teriak Arif sambil mengangis. Arif memeriksa nadi ayahnya dan dirasakannya tidak berdenyut lagi. Sekujur tubuh ayah seperti hangus terbakar. Arif berteriak histeris seakan ingin mengalahkan suara guntur yang masih membahana di atasnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia tidak menyangka kalau ayahnya akan secepat itu meninggalkannya. Dengan perasaan hancur, Arif segera berlari memanggil orang yang sedang menanam padi yang agak jauh dari sawahnya. Melihat ada yang berkerumun orang-orang pun segera berdatangan ke tempat Arif. Para warga kemudian mengangkat mayat ayah Arif ke dangau sebelum mengantarkannya pulang. Arif mengikuti usungan jenasah ayahnya dengan air mata yang tumpah. Ibu Arif pun sangat terpukul dengan kepergian suaminya. Ia teringat akan umur Arif yang baru empat belas tahun. Umur yang masih muda itu sudah harus menggantikan beban ayahnya sebagai tulang punggung keluarga karena ayahnya telah meninggal. Sudah sebulan ayah Arif meninggal. Untunglah orang-orang sekampungnya ramai-ramai membantu pekerjaan Arif hingga tiga petak sawahnya selesai ditanami padi. Hari ini Arif duduk di dangau sambil menerawang jauh. Di tempat inilah ia melihat ayah yang dicintainya meninggalkannya untuk selamanya.
      “Ayah, aku berjanji untuk belajar dengan giat agar aku dapat menjadi Insinyur Pertanian seperti yang ayah harapkan“, kata Arif.
Umur Arif memang belum siap untuk mengambil alih tugas ayahnya. Tetapi ia adalah anak yang berbakti pada orang tua sehingga ia akan berusaha untuk menjalankan tanggungjawab dan amanat yang dibebankan kepadanya tanpa keluh kesah dan tanpa rasa putus asa. Bagi Arif hidup adalah perjuangan, berjuang untuk diri sendiri, untuk orang tua, dan berjuang untuk bangsa dan negara menuju kehidupan yang bermakna@


3.       ARTI SEBUAH KEGAGALAN

Cindy Arianty, menuliskan namanya di atas permulir penadaftaran. Tekadnya untuk menjadi seorang penyanyi terkenal sudah bulat. Cindy diantar oleh Anggi teman sekelasnya. Hari ini adalah tanggal audisinya. Pagi-pagi sekali Cindy sudah bersiap-siap meninggalkan rumah Ia langsung menuju tempat audisi didampingi Anggi. Sebenarnya dalam hati pun Anggi heran mengapa Cindy bersi keras untuk ikut audisi. Padahal menurutnya suara Cindy biasa-biasa saja bahkan pas-pasan. Selain itu, Cindy merupakan peserta termudah. Maklumlah baru kelas tiga SMP, dan belum ounya pengalaman bertanding.Tetapi itulah Cindy percaya dirinya begitu tinggi. Ia yakin benar akan menjadi pemenang dalam audisi itu. Berbagai hayalan indah sudah memenuhi benaknya.
      “ Pokoknya Aku harus jadi penyanyi terkenal, dan itu sudah pasti. Apalagi suaraku memang sangat mendukung jadi apa yang akan menghalangi Aku jadi Sang bintang?” Kata Cindy menyombongkan diri.
      “Cindy...Cindy.. jangan pandang enteng orang lain loh?, Disini kan banyak saingan, gimana kalo ternyata vokal mereka lebih bagus?“, Jawab Anggi.
       “Akh... mereka semua kecil!! Aku kan sudah berlatih dan sekarang aku betul-betul sudah mantap, liat aja Nggi.. Aku akan membuktikan perkataanku“.
 Cindy sudah memasuki antrian audisi yang panjang. Udara panas membuatnya sangat gerah, ditambah lapar dan haus yang juga menyerangnya. Smentara itu Anggi hanya memperhatikan dari jauh. Cindy mulai kesal, slop tinggi yang digunakannya membuat betisnya pegal. Peluh bercucuran bercampur aroma dari para peserta yang jumlahnya masih berjubel. Setelah tiga jam berdiri akhirnya Cindy pun mendapatkan nomor pesertanya yaitu 00313.
      “ Kok angka 13 sih kata orang inikan angka sial, eh tolong nomorku bisa diganti, tanya Cindy pada panitia”? Ooh maaf mbak, ndak  bisa diganti. Itu nomor  sesuai dengan  nomor antrian Mbak! Jawab panitia.
      “ Ukh dasar angka sial mau diganti aja ndak bisa!“ gerutu Cindy . Sejak mendapatkan angka tiga belas itu perasaan Cindy mulai tidak tenang. Yang terbayang diangannya angka sial melulu. Anggapan ini betul-betul telah menguras dan meruntuhkan semangatnya. Cindy kemudian duduk di kursi penantian bersama peserta lain sebelum memasuki ruangan audisi. Sesekali Cindy mengulang-ngulang syair lagu yang akan dinyanyikannya sambil berbisik-bisik. Rasa cemas sudah mulai menyerang hati Cindy semangatnya yang menyala bagaikan kobaran api seakan padam disiram air. Tak lama kemudian,  
Cindy sudah memasuki ruangan audisi. Tetapi di dalam ruangan itupun harus antri.  Perlahan tapi pasti antrian itu bergeser dan berkurang. Cindy langsung menuju ke tempat yang telah ditentukan. Dia berdiri di depan tiga orang juri yang telah menantinya. Sesaat Cindy menatap ketiga orang itu. Cindy Nerves tangannya terasa dingin dan tubuhnya lemas, sorotan lampu yang terang membutnya semakin gerogi.
        “ Ayo mundur dua langkah kemudian silahkan menyanyi“,kata juri. 
Cindy langsung menyanyikan lagu Duo Maia „“Emang Gue Pikirin“  Padahal bukan lagu itu yang dipersiapkannya. Nada awal lagunya pun sangat tinggi. 
       “Yop, cukup, Coba langsung bagian reff,“ kata juri .
Cindy langsung menghantam reef, dan begitu sampai di reef suaranya terselip, kandas dan pecah. Dewan juri hanya tersenyum kecil sedangkan Cindy tampak makin pucat.
       “ Coba sekarang nyanyikan  Lagu Rossa ”Ayat-Ayat Cinta,“  kata juri.
       “Maaf lagu itu Aku tidak hafal“, jawab Cindy lesuh, kalau gitu coba lagunya Bunga Citra Lestari             “Sunny”, kata juri.
Setelah diam sejenak Cindy pun menyanyi.
      “Sunny..Sunny..Sunny…Sunny..Sunny.”,
      “Loh!! Kok Sunny terus”.
      “Aku lu .. pa, jawab Cindy”.
      “Maaf kalau begitu  Adik gagal“.
       “ To.. to long satu lagu lagi, aku pasti bisa“.
      “Maaf sudah tidak bisa, ikut lain kali aja yaa?”.
Dengan perasaan kecewa Cindy meninggalkan ruangan audisi. Nomor peserta yang bertuliskan angka 00313 yang masih menggantung dilehernya langsung dicopot.
      “Dasar angka sial!, gara-gara angka ini Aku gagal menjadi bintang“, gerutu Cindy.
Angka itu langsung diremas-remas sampai membentuk bola pimpong, lalu dicampakkan begitu saja di sudut ruangan. Sementara itu Anggi yang dari tadi menunggu segera berlari-lari menghampirinya.
      “Gimana,  kamu berhasil kan? Tanya Anggi penuh semangat.
Tapi Cindy yang ditanya tidak menjawab sepatah  kata pun. Ia malah menyenggol bahu Anggi kemudian berlalu begitu saja. Sedangkan anggi berlari-lari mengejarnya.
      “Cindy kamu gagal ya,! Kok diam aja”.
      “Aku gagal Nggi, sudahlah Aku malas ngomong sama kamu, tinggalkan aku sendiri!” .
      “Cin…Cin… tunggu dulu kamu nggak usah kebawa emosi gitu donk, inikan pertandingan. Namanya pertandingan ya harus ada kalah dan ada menang“, bujuk Anggi.
       “Tidak Nggi!! Aku itu pantas jadi juara, vokalku oke.. tapi gara-gara nomor sial itu tadi makanya aku kalah Nggi, Kaaalah!!!“, Kata Cindy penuh kecewa.
Tanpa disadarinya butir-butir air mata Cindy mengalir dipipinya.. Cindy tidak bisa menerima kekalahannya. Selain kecewa dia juga malu pada dirinya sendiri dan juga pada Anggi. Melihat Cindy menangis Anggi segera memeluknya, ditepuk-tepuknya bahu Cindy dan terus menerus menghibur sampai tangis Cindy redah.
      “Cindy anggaplah ini suatu pengalaman”.,
      “Ingat Cin, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku yakin Cin, kamu memang oke hanya saja Dewi Fortuna belum berpihak pada kamu. Jadi kamu harus bersabar sambil terus melatih diri yaa”,hibur Anggi.
Setelah menangis perasaan Cindy sudah plong. Rasa sesak yang memenuhi dadanya telah sirna oleh nasihat Anggi sahabatnya.
      “Anggi, maafkan aku, selama ini aku terlalu membanggakan diri. Aku menganggap bahwa akulah yang terbaik dan meremehkan orang lain. Aku...aku malu sama kamu Nggi“. Kata Cindy sambil menunduk.
      “Sudahlah Cin, nggak perlu malu sama aku,aku in kan sahabatmu too?“, kata Anggi sambil tersenyum.
      “Jadi...kamu masih mau bersahabat dengan aku Nggi?“, tanya Cindy.
      “Yaa ialah..!, masak sih cuma gagal audisi lantas persahabatan kita terputus, kamu rugi dua kali tahuu“,jawab Anggi menggoda.
      “Makasih Anggi, kamu memang sahabat sejatiku“.
Kini Cindy tersenyum kembali. Kegagalan yang telah dialaminya menjadikannya sadar, bahwa dalam hidup ini ada hal-hal di mana manusia harus menerimanya dengan ikhlas yakni takdir. Selain itu, Cindy menyadari bahwa tidak boleh memebanggakan diri sendiri dan meremehkan orang lain. Kegagalan menempah dirinya untuk lebih tegar, sabar, dan yang terpenting lagi adalah menerima kegagalan itu dengan segenap kebesaran jiwa@  
   


4.      SEBENING KASIH

    Suasana siang itu sangat gerah, panas dan mencekam. Angin sekan enggan berhembus, burung-burung pun ogah berkicau semuanya diam membisu seakan turut merasakan apa yang di alami oleh Rival. Hanya terdengar suara langkah dari sepatu Bu Guru Nova yang mondar mandir di ruangan itu dengan muka geram. Rival berdiri mematung di pojok ruangan tidak jauh dari Dodi. Mereka menghadap BP karena terlibat perkelahian seru. Keduanya kedapatan sedanag adu jotos pada jam istirahat. Bibir Rival berdarah kena tinju Dodi. Demikian juga dengan Dodi, selain pipinya membiru, kancing bajunya juga terlepas karena ditarik oleh Rival. Antara Rival dan Dodi memang sudah lama tidak akur. Mereka tidak ubahnya bagai api dalam sekam. Tiap ada kesempatan, mereka saling melepaskan kejengkelannya ha nya karena persoalan sepele. Di sekolahnya Rival meamang sudah tidak asing lagi bagi siswa lain dan juga para gurunya. Ia terkenal nakal, liar suka mengganggu, dan tidak ada perhatian pada pelajaran. Dan perkelahiannya dengan dodi pada hari ini memaksanya kembali berhadapan dengan guru BP untuk kesekian kalinya.
      “Hei, ksmu berdua sudah sangat sering melakukan pelanggaran. Kamu jangan sok jagoan ya?!. Sekarang jelaskan!, mengapa kalian berkelahi!“.
      “Rival yang memulai Bu‘‘
      ‘‘Tidak Bu, Dodi yang buat gara-gara Bu, Hee Dodi, jangan macam-macam ya? Apa masih mau dapat tinju?!”, bentak rival.
      “Sudah..sudah!. Kalau kalian saling menuduh kapan masalahnya selesai?” kata Bu Nova.
       “Nak, kalian itu anak sekolah, masa kealakauan kalian seperti preman?. Kalau ada masalah coba selesaikan secara kepala dingin. Jangan langsung adu jotos. Itu kan namanya main hakim sendiri. Apalagi kalau hanya persoalan sepele. Sekarang kalian harus saling meminta maaf, lal kembali ke kelas masing-masing. Tetapi ingat, Ibu tidaka mau ada masalah lagi. Terutama kamu Rival. Ini sudah peringatan yang terakhir. Kalau sampai membuat masalah lagi, maka kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini apalagi orang tuamu sudahj menandatangani surat persetujuan. Ingat, ini peringatan terakhir, mengerti?!“ kata Bu Nova denga nada tinggi.
     Setelah lama berpandangan, dengan wajah kesal Dodi dan Rival saling meminta maaf kemudian menuju ke kelasnya masing-masing. Rival memasuki kelasnya dengan tertunduk lesuh. Saat itu Bu guru Evi sedang mengajarkan bahasa Indonesia di kelasnya. Setelah permisi, Rival menuju ke tempat duduknya. Tetapi belum sempat melangkah, Bu Evi sudah menahannya. Rival kaget, ia sangat takut dimarahi sama Bu Evi,walaupun terhadap guru lain Rival bandel, tetapi berbeda dengan Bu Evi. Dalam hati Rival sangat kagum padanya. Selain cara mengajarnya bagus, Bu Evi juga tegas tetapi penyayang.  Akhirnya Rival berbalik menghadap ke Bu Evi sambil menunduk karena tidak berani memandang Bu Evi. Sementara itu Bu Evi tersenyum kecil pada Rival sebelum memulai pembicaraannya.
      “Rival, mengapa kamu berkelahi lagi Nak, ibu sudah sering mendengar hal-hal kurang baik tentang kamu Nak. Mengapa setiap permasalahan harus diselesaikan dengan kekerasan? Kamu kan sudah kelas tiga Nak. Sebentar lagi akan ujian dan masuk SMA“,tanya Bu Evi.
      “Sa..saya....“jawab Rival tergagap.
      ‘’Rival, sebenarnya Ibu sangat kasihan sama kamu nak. Ibu tahu kamu anak yang baik, dan pintar. Hanya saja, kamu tidak pernah serius mau belajar dan waktu belajarmu terbuang percuama karena kamu isi  dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya malah hanya akan menyusahkan diri kamu sendiri nak. Hidup ini adalah kesempatan, dan kesermpatan utu harus kamu manfaatkan sebaik mungkin. Buatlah orang tuamu bangga nak. Kamu adalah harapan mereka. Ibu yakin ,kamu pasti dapat merubah kelakuannmu. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Ibi yakin, dengan kesungguhan dan kesabaran kamu pasti akan jauh lebaih baik. Sebenarnya, Ibu sangat ingin bertemu dengan oerang tuamu. Kpan kira-kira mereka ada waktu?“, tanya Bu Evi dengan lembut.
“Papa pulangnya selalu malam Bu, sedangkan mama...“.
Begitu menyebut nama mama, Rival langsung terdiam dan terlihat sangat sedih. Bu Evi sangat melihat perubahan di wajah Rival. Untuk itu Bu Evi melanjutkan pembicaraannya dengan mengajukan pertanyaan pada Rival.
      “Mama Rival kenapa?“ tanya Bu Evi penasaran.
      ‘’Mama sudah meninggal Bu”.
      “Kapan nak?”.
      ‘’Sewaktu Rival kelas 3 SD Bu”.
      Sekarang Bu Evi sudah memahami mengapa Rival menjadi anak yang nakal. Rupanya Rival kurang mendapat kasih sayang. Walaupun Rival berlimpah materi, tetapi ia kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Papanya hampir tidak punya waktu untuk anaknya, sedangkan mama yang biasanya mencurahkan kasih sayang dengan sepenuh hati telah tiada.
      ‘’Sekarang Ibu memahami keadaan dan perasaanmu Nak. Kehilangan mama memang mendatangkan kesedihan yang sangat dalam. Apalagi anak seusiamu Nak. Mulai sekarang, kamu justru harus lebih memacu diri. Buatlah orang tuamu bangga. Apalagi mama kamu, walaupun dia ada di alam lain, tetapi ibu yakin mama kamu sangat sedih melihat kelakuan kamu selama ini. Sekarang, maukah Nak Rival berjanji untuk menjadi anak yang baik?. Ibu yakin, kamu pasti bisa Nak. Ibu siap membantu kamu kapan saja, asal kamu dapat menjadi anak yang baik. Bisa kan nak?“, tanya Bu Evi sambil menepuk bahu Rival.
Rival mengangguk mengiyakan permintaan Bu Evi. Tanpa terasa air matanya meleleh. Sudah lama ia tidak pernah menangis. Ia ingat terakhir kali mneteskan air mata sewaktu mamanya meninggal. Hari ini perasaan Rival sangat tersentuh. Nasehat Bu Evi telah menghadirkan sugesti yang baru dalam hatinya dan membasahi jiwanya yang kering. Sejak itu pula, Rival telah berjanji dan bertekad untuk merubah kelakuan buruknya selama ini. Rival merasa bahwa sekarang ia tidak sendiri lagi. Selama ini jiwanya meronta, merasa miskin di tengah kekayaan orang tuanya dan merasa sendiri di tengah keramain. Selama ini ia merasa tak seorang pun yang mau memahami dan memperhatikan dirinya. Ia banyak ditegur oleh gurunya tetapi selalu dengan nada yang tinggi sehingga bukan menyadarkannya tetapi justru semakin membuatnya memberontak. Hal ini sangat berbeda dengan perlakuan yang diterimanya dari Bu Evi yang telah menashatinya dengan lemah lembut. Bu Evi memeberikan kepercayaan dan keyakianan pada Rival sehingga ia berusaha untuk bangkit dan menemukan jati dirinya. Apalagi umurnya yang menjelang lima belas tahun memang memasuki pancaroba ke usia remaja.
     Hari berikutnya, Rival telah menunjukan perubahan yang drastis. Semua temannya merasa heran. Begitu juga dengan guru-gurunya. Kalau sebelumnya ia banyak dibicarakan karena kenakalannya, sekarang sebaliknya ia banyak dibicrakan karena kelakuan baiknya. Sebagai seorang guru, Bu Evilah yang paling bergembira karena telah berhasil melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik. Sekarang Rival lebih rapi, tenang, ceria dan lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Kini Rival menjalani hari-harinya dengan ceria, seceria kicauan burung di pagi hari@


5.       SEUNTAI KATA MAAF

Lonceng tanda peragantian pelajaran sudah berbunyi. Kelas Andi tampak kosong. Entah mengpa, waktu sudah berjalan lima belas menit tetapi Bu Intan guru Biologi di kelas Andi belum datang. Tentu saja kelas Andi jadi gaduh. Kesempatan ini digunakan oleh Ananto Adnan untuk beraksi. Dan yang menjadi bulan-bulana bagi Anto adsalah Andi. Maklumlah Andi anak yang rajin dan juga pandai. Walaupun guru tidak ada , Andi tetap membuka dan membaca buku buku pelajarannya. Sedangkan anak yang lain asyik dengan urusannya masing-masing. Yang mengherankan adalan Anto, jangankan tidak ada guru ada guru saja ia masih mencari-cari alasan untuk keluar masuk kelas. Tetapi hari ini, kelakuan Anto sangat lain. Ia juga kelihatan asyik memperhatikan dan membaca. Padahal tiap harinya Anto tidak pernah serius mengikuti pelajaran. Ia selalu menjadi pengganggu dan pemancing keributan di dalam kelasnya. Teman sekelasnya pun tidak berani mengadukan perbuatan Anto kepada guru. Mereka takut menangung resikonya. Setiap ada yang berani membantahnya, Anto langsung mengancam dengan kepalan tinjunya. Hal ini disebabakan karena Anto mempunyai banyak teman yang terkenal brutal dan suka bertindak kasar. Anto sudah lama mengincar Andi. Oleh Anto, Andi dicap telah berani menantangnya. Untuk itu, Anto selalu mencari-cari cara untuk dapat mengerjai Andi. Itu semua lantaran Anto pernah membawa dan melihat majalah seronok saat belajar. Tanpa sadar, Andi langsung nyeletuk, “iih kok bawa majalah gituan sih?”.
Tentu saja Anto kaget dan langsung naik pitam. Suatu hari, Andi kehilangan uang pembayaran komitenya. Ada temannya yang melihat bahwa Anto yang membuka atas Andi dan mengambil sesuatu. Tetapi Anto langsung mengancam kalau ada yang membocorkan maka akan dipukulnya.
Andi sangat bersedih. Uang pembayaran itu sangat susah didapatkannya. Setiap hari ia bekerja membantu cuci piring pada seorang penjual ikan bakar di dekat rumahnya. Sebagian dari upahnya disisihkannya untuk kperluan sekolah. Hari ini, sepulang sekolah Andi bverjalan seorang diri. Di mulut lorong yang agak sepi, Anto dan dua orang temannya sengaja menunggu kedatangan Andi. Begitu Andi mendekat, Anto langsung menghadang dan mencegat Andi sambil berkacak pinggang.
      ‘‘ Heii Andi, kemarin kamu nuduh aku yang ngambil uangmu yaa!“,tanya Anto sinis.
      “Ha?..nuduh kamu?...ti..tidak, aku ndak nuduh siapa-siapa. Memang uang aku hilang, tetapi aku tidak mencurigai siapa pun“, jawab Andi tenang.  
      ‘‘Aah! Ndak usah basa basi, pokoknya aku tahu kalau kamu nuduh aku!, ngerti brengseek?!“ Anto kelihatan sangat beringas. Sebelum Andi sempat menjawab, Anto sudah mencengkram kerah bajunya dan melayangkan tinju ke wajah Andi. Andi tidak kuasa untuk melawan. Melepaskan cengkeraman Anto saja Andi tidak berani. Apalagi Anto tidak sendirian.
      “Anto, ja..jangan, ampuun bibir saya sakit, to…tolong jangan pukul lagi” kata Andi memohon.
      ‘’Aa…rasakan ini!,..bruugkh..! satu lagi kepalan tinju Anto mendarat di bibir Andi. Sementara itu Andi hanya bisa meringis kesakitan. Hantaman tinju Anto membuat bibir Andi pecah. Darah segar meleleh di bibirnya. Andi meringis, ia merasakan bibirnya terasa nyeri.
Melihat bibir Andi berdarah, Anto langsung melepaskan cengkeraman tangannya. Rupanya Anto takut juga kalu-kalau ada yang melihat dan mengadukan perbuatanntya pada guru. Sebelum meninggalkan Andi, Anto masih sempat mengancam Andi.
       ‘’Kalau kamu berani lagi macam-macam apalagi sampai melaporkan kejadian ini pada guru, maka kamu akan mendapat tinju lagi!,mengerti brengseek?!”, ancam Anto.
Andi tidak bersuara. Ia hanya mengangguk kecil mengiayakan ancaman Anto. Begitu Anto menjauh, Andi pun melanjutkan perjalanannya sambil memegangi bibirnya yang beradarah. Sambil bersenda gurau, Anto dan kedua temannya menyeberang di jalan yang padat itu. Ketika di tengah jalan, tiba-tiba seorang pengendara motor melaju dengan kencang. Pengendara motor itupun tak kuasa mengendalikan motornya ketika Anto berada pas di depannya.
Motor itu pun langsung menghantam bahu kanan Anto,sehingga terlempar ke pinggir jalan menghantam trotoar. Anto pingsan, darah segar mengucur dari mulut dan hidungnya. Pengendara motor langsung kabur. Orang-orang mengerumuni Anto. Andi kaget melihat banyak orang berkerumun. Ia segera berlari dan menyusup di antara kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terperanjatnya Andi ketika meliahat kalau yang tergelatak di depannya adalah Anto yang baru saja memukulnya. Dengan di bantu polisi Andi membawa Anto ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan. Sudah satu jam Andi menunggui Anto tetapi belum juga siuman. Andi sangat sedih melihat keadaan Anto. Dalam hati tak henti-hentinya berdo‘a semoga Anto segera siuman. Rupanya do’a Andi dikabulkan. Tak lama kemudian Anto pun sadar. Dengan pelan-pelan ia membuka mata dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Anto kaget melihat Andi berada di dekatnya. Mulutnya komat-kamit seperti hendak mengucapkan sesuatu kepada Andi.
      ‘‘An...di...maafkan aku, sungguh a..aku menyesal atas perbuatanku padamu...sekarang aku sudah mendapatakan ganjarannya..“.
      ‘‘Ia Nto, aku sudah memaafkan kamu, aku harap kamu cepat sembuh supaya kita ke sekolah    lagi“, jawab Andi.
      ‘‘Ia Ndi,..ternyata hatimu sangat mulia, aku sangat malu padamu Ndi, sekarang aku sudah tenang karena sudah mendapat maaf dari kamu yang terasa sudah mengurangi separuh dari sakit yang aku rasakan‘‘, kata Anto.
      “Istirahatlah Nto, jangan berbicara supaya keadaanmu cepat membaik“, jawab Andi.
Tampak butir-butir bening mengalir dari kelopak mata Anto. Ia menangis haru, ternyata selama ini ia telah mensalimi dirinya sendiri dan orang lain. Ia menyesal betapa rasa dendam yang tidak beralasan telah menyesatkan tingkah lakunya. Ia baru sadar betapa Andi berhati mulia yang telah menolong, menunggui, dan memaafkan dirinya. Andi pun demikian, walaupun bibir bekas hantaman tinju Anto masih berbekas, tetapi dengan ikhlas menolong dan memaafkan Anto. Sungguh, hanya orang yang berhati mulialah yang dapat memaafkan disaat ia sanggup memeberi hukuman.
Suatu keajaiban bagi Anto, setelah beberapa hari di rumah sakit, Anto sudah diperbolehkan pulang. Sekarang Anto dan Andi sudah menjadi sahabat karib, karena kelakuan Anto pun sudah berbeda dengan waktu sebelumnya. Kecelakaan yang dialaminya memberinya pelajaran berharga bahwa ternyata orang yang kita sakiti terkadang adalah orang yang pernah atau akan memberi arti dalam kehidupan kita@


6.       SANG BINTANG

Dian Hardianti tersentak kaget ketika seseorang memanggil namanya. Spontan ia menoleh mencari sumber suara itu yang ternyata Bu Guru Nadia guru bahasa Indonesianya. Dian menyapa Bu Gurunya dengan sedikit agak malu.
      “Eh Bu Guru, ada apa Bu?”.
      “Gini Dian, Minggu depan akan ada lomba bercerita mengenai Ozon, kamu bisa ikut lagi kan?”, tanya Bu Nadia.
      “Boleh Bu, tapi kayaknya waktunya sudah mepet. Dian kan harus cari informasi di internet dulu mengenai Ozon Bu“.
      “Oo Jangan khawatir, pihak penyelenggara sudah melampirkan buku tentang Ozon di undangannya. Ibu sudah mengedit bagian-bagian yang penting. Jadi kamu tinggal menghapal sambil memahaminya, gimana menurutmu?”, tanya Bu Nadia meyakiankan.
      “Wah, baguslah Bu, kalau begitu saya bersedia mengikuti lomba itu Bu‘‘, jawab Dian penuh semangat.
Di sekolahnya Dian memang terkenal jago pidato. Dalam tiga bulan terakhir sudah empat kali ia menjurai lomba Tingkat SMP sekotanya. Baik pidato dalam bahasa  Inggris, lomba bercerita, juga lomba musikalisasi puisi. Tidak heran kalau ia duduk di kelas dua Bilingual kelas yang khusus menampung siswa siswi
 yang cakap dalam berbahasa Inggris.  Wajahnya yang imut dan Vokalnya yang memukau merupakan pendukung kemenangannya di berbagai ajang perlombaan. Tentu saja orang tua dan guru-gurunya sangat berbangga karena semakin mengharumkan nama sekolah SBInya itu. Pertandingan sudah semakin dekat. Dian sudah menghapal dan memahami segala sesuatu tentang Ozon. Mulai dari pengertian, manfaatnya bagi kehidupan, penyebab kerusakannya, upaya perlindungan, akibat sinar ultraviolet, dan pecegahannya agar tidak menimbulkan penyakit bagi kehidupan manusia di muka bumi. Penampilan Dian pun sudah dipersiapakn dengan matang. Mulai dari ekspresi, intonasi, penekanan kalimat, sampai penggunaan alat peraga. Hari yang dinanti-nanti pun telah tiba. Dian sudah berpakaian rapi dengan rok biru serta baju batik khas sekolahnya. Segala persiapannya dimasukkan ke dalam tas.
“Dian, sebelum berangkat kita berdo’a dulu ya, semoga kita sukses”, kata Bu Nadia.
Dian tersenyum bahagia mendengar perkataan Bu Nadia. Bagi Dian, Bu Nadia bukan hanya sekedar membimbingnya, tetapi juga menanamkan kepercayaan pada dirinya sehingga ia merasa pasti dan yakin dengan penampilannya di depan podium. Tak lama kemudian ,sampailah mereka di tempat pertandingan. Dian memasuki ruangan besar didampingi oleh Bu Nadia. Ruangan itu sudah tertata rapi. Mulai dari panggung, meja juri, tempat MC, kursi peserta, dan tempat duduk para pengantar beserta sponsor dari masing-masing sekolah. Sesaat Dian memperhatikan keadaan ruangan besar itu hingga matanya tertuju pada piala-piala cantik yang berjejer rapi di sudut ruangan.
      “Wah, cantik sekali piala itu betapa bahagianya aku kalau berhasil membawa pulang salah satunya“, kata Dian dalam hati.
Dian mengambil tempat duduk di bagian depan. Sesekali ia menoleh ke belakang memperhatikan peserta lainnya. Dian tersentak kaget ketika ia mengenali salah satu peserta yang ia lihat.
      “Ah, itu kan Si Taupan sang juara pidato waktu saya SD“, kata Dian dalam hati.
Taupan memang pernah menjuarai beberapa lomba. Bahkan pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti lomba mendongeng. Hal itulah yang membuat Dian berkecil hati.
      “Lho Dian kamu kok diam aja dari tadi, terus kenapa wajahmu tiba-tiba tidak semangat begitu?“
      “A..anu Bu, di belakang sana ada Taupan“, kata Dian gugup.
      “Taupan? Siapa itu Taupan, terus ada apa dengan dia Nak?“, tanya Bu Nadia penasaran.
      “Taupan itu kakak kelas saya waktu di SD Bu dan dia jago pidato. Dian takut”.
      “Oo begitu, kamu juga kan jago Nak. Ibu sama sekali tidak meragukan kemampuanmu siapa pun yang kau hadapi. Kamu kan sudah membuktikannya dengan kemenangan-kemenanganmu di berbagai pertandingan sebelumnya. Jadi Ibu yakin, Insya Allah kamu akan menjadi yang terbaik Nak“, kata Bu Nadia penuh semngat.
 Nasehat dan suport Bu Nadia telah membangkitkan kembali semangat Dian yang sempat porak-poranda oleh kehadiran Taupan di ruangan itu. Dian kembali memperbaiki dududknya ketika MC mengumumkan jika acara segera di mulai. Peserta pertama sudah tampil membawakan certinya tentang Ozon. Disusul oleh peserta yang kedua yang sesekali melirik naskah yang di pegangnya. rupanya pesrta ini tidak menghapal cerita yang di bawakannya. Tepuk tangan panjang mengakhiri penampilan peserta ke dua. Sekarang tibalah giliran Dian sebagai peserta yang ke tiga. Tampak Bu Nadia membisikkan sesuatu kepada Dian yang di terimanya dengan anggukan kecil sebelum ia melangkah ke atas panggung. Dian memulai pidatonya dengan mengucapkan salam kemudian menyapa dewan juri dan seluruh hadirin yang ada di ruangan itu. Tampil di depan umum sudah merupakan hal yang biasa bagi Dian. Dengan semangat Dian membawakan ceritanya sambil memainkan sebuah globe ukuran bola volly yang telah dipersiapkannya. Selain itu, Dian juga memperlihatkan beberapa  gambar yang dapat menghasilkan zat-zat penyebab menipisnya lapisan Ozon seperti gambar AC, kulkas, Hair Spray, parfum semprot, dan lain-lain. Dewan juri dari Dinas Lingkungah Hidup menganguk-anggukan kepala pertanda kagum pada Dian. Hadirin semakin kagum ketika Dian mengahiri pidatonya dengan sebuah puisi tentang Ozon yang dibawakannya dengan penuh penghayatan. Setelah mengucapakan salam penutup, gemuruh tepuk tangan dari para hadirin memenuhi ruangan yang besar itu.Dian kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang berseri-seri.
      “Penampilan kamu luar biasa Nak, semua orang kagum padamu”, bisik Bu Nadia pada Dian.
      “Terima kasih Bu, itu semua berkat bimbingan dan perhatian Ibu”, jawab Dian.
Peserta berikutnya tampil satu persatu hingga sampailah pada peserta yang terakhir. Dian mendengar nama Taupan di panggil. Taupan pun melangkah ke atas panggung tanpa senyum. Ia kelihatan sangat tegang dan nerves. Setelah mengucapakan salam dan menyapa dewan juri, Taupan diam sejenak sambil menunduk. Mulutnya komat-kamit seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. Juri berkali-kali mempersilahkan Taupan untuk segera melanjutkan ceritanya. Tetapi Taupan malah kelihatan semakin bingung. Dian tercengang dan sama sekali tidak mengerti dengan  sikap Taupan. Tanpa sadar Dian langsung berteriak memberi semangat pada Taupan.
      “Ayoo Taupan, kamu bisaa!“, teriak Dian.
Taupan menoleh sesaat ke arah Dian kemudian kembali menunduk dengan wajah yang pucat. Sepertinya Taupan lupa dengan apa yang ingin dikatakannya tentang Ozon. Karena tidak bisa melanjutkan ceritanya, maka dengan terpaksa dewan juri mempersilahkannya duduk. Taupan segera menuju tempat duduknya dengan muka pucat.
      ”Lho Dian, kamu bilang Taupan jago pidato, tapi kenapa penampilannya begitu?“, tanya Bu Nadia heran.
      “Iya Bu, Dian juga heran. Kenapa Taupan jadi berubah begitu padahal Dian tahu betul kemampuan Taupan Bu”, jawab Dian.
Setelah beristirahat sejenak, tampak dewan juri sedang berembuk untuk menentukan para pemenang. Akhirnya saat yang dinanti-nanti pun tiba, yakni pengumuman para pemenang. Pengumuman ini dibawakan oleh salah satu dewan juri yang menilai masalah performens para peserta. Dimulai dari juara tiga yang jatuh pada peserta ke lima. Juara dua jatuh pada peserta ke lima belas. Para hadirin seakan menahan napas ketika dewan juri hendak menyebut juara satu yang ternyata diraih oleh Dian. Sebagian besar hadirin memang sudah menduga kalau Dian lah yang akan menjadi juara satu setelah melihat penampilan peserta lain. Dian sangat gembira dan langsung mencium tangan Bu Nadia.
      “Makasih banyak Bu, ini semua Dian peroleh berkat bimbingan dan bantuan Ibu“, kata Dian.
       “Kamu memang pantas jadi sang bintang Nak, Ibu sangat bangga padamu“, jawab Bu Nadia.
Hadiah kemenangan berupa piala, piagam dan uang diperoleh Dian dengan penuh rasa syukur. Kemenangan ini akan mengantarkan Dian untuk mengikuti pestival Seni Tingkat Nasinal mewakili daerahnya. Kemenangan yang telah diperolehnya dari berbagai  ajang perlombaan yang pernah diikutinya menjadikan Dian sebagai bintang yang patut diacungi jempol. Semoga sang bintang itu senantiasa bersinar yang akan menerangi  kegelapan@



7.       LIBURAN YANG MENCEKAM

Ririn tercengang-cengang seorang diri di dalam bus yang melaju dengan kencang. Ia asyik menikmati pemandangan alam di sekelilingnya. Sedangkan Rifda tertidur di tempat duduknya. Merasa sendirian dikelilingi penumpang yang tidur, akhirnya Ririn membanguankan Rifda.
      “Rifda…Rif, ayo bangun dong, kok tidur melulu sih! Coba lihat dong pemandangan di luar sana, amboi indahnya”, kata Ririn.
Ririn terus memandangi gunung-gunung yang berjejer. Tampak kebirua-biruan dari jauh, sawah yang berpetak-petak, dan bukit-bukit yang menghijau. Seakarang ia abaru tahu betapa suburnya alam pedesaan, dan betapa hijaunya alam Indonesia. Maklumlah Ririn memang orang kota yang baru kali ini menginjakan kakiknya di pedesaan. Setelah itu, Ririn kembali memandangi Rifda yang tertidur duduk di kursinya dan berusaha membangunkannya kembali.
      ‘‘Eeh...kok tidak melek-melek juga, ayo bangun cepat Rif, nanti kita lewat lho!‘’, kata Ririn sambil menggoyang-goyangkan bahu Rifda. Akhirnya dengan berat hati Rifda bangun juga sambil menggosok-gosok matanya, lalu berusaha memperhatikan keadaan sekeliling.
      ‘‘Masih lama Rin, kira-kira satu kilo lagi, kita sudah sampai tetapi harus dilanjutkan dengan jalan kaki lagi untuk menuju Gunung Kariango‘‘, kata Rifda menjelaskan.
Tak lama kemudian, mereka tampak turun dari bus dan menelusuri jalan setapak menuju  Gunung Kariango. Mereka terlihat lelah membawa ransel mereka masing-masing. Ririn betul-betul menikmati perjalannanya. Ia berlari-lari di padang yang luas diantara butir-butir pasir yang bertebaran. Dari jauh ia mendengar suara  gemercik air yang jatuh dari pancuran. Dikiri kanan jalan di tumbuhi pohon jati dan pohon mahoni yang rimbun. Anak-anak pedesaan tampak berlaraian keluar dari rumah mereka memperhatikan Ririn dan Rifda berlalu dari depan rumahnya.
      ‘‘Rin, di depan kita akan menyeberang sungai, asyik loh“.
‘Tapi aku takut Rif,  kalau kenapa-kenapa bagaimana dong“.
      ‘‘Jangan khawatir, tidak ada apa-apa. ini kan sudah daerahnya kakek. Semua penduduk sini kenal sama kakek“.
Dari jauh tampaklah Gunung Kariango yang menjulang tinggi. Tanaman jagung tampak berbaris rapi dari kejauhan dan menghadirkan rasa damai.
      ‘‘Rin, itu sana Gunung Kariango, di kaki gunung itulah rumah Kakek berada. Di balik gunung itu terdapat asrama tentara Kostrad. Kalau mereka latihan suara tembakannya sangat dekat kedengaran Rin‘‘, kata Rifka.
      “Kakek Nenek tidak takut peluru nyasar apa?“, tanya Ririn.
      “Tidaklah, para tentara itu berlatih di tempat khusus jadi suaranya doang yang kedengaran dari balik gunung ini”,jawab Rifda.
Setelah melewati ladang jagung, sampailah mereka di mata air yang sangat jernih. Ririn segera merebahkan badannya di atas sebuah batu besar yang  terdapat dekat mata air itu sambil memandang ke atas pohon-pohon besar yang menjulang tigngi. Setelah puas menikmati suasana air terjun, Ririn segera menyusul Rifda yang mengambil air di semburan mata air dan membasuh wajahnya. Keduanya tampak berbahagia menikmati panorama alam yang sangat berbeda dengan suasana kota. Bising oleh hiruk pikuk kendaraan serta udara yang tidak segar karena sudah tercemar. Bagi Ririn ini adalah pengalaman yang baru di alaminya.
      ‘‘Nah kamu dengar suara kokok ayam kan Rin?, itu suara ayam Kakek, kamu lihat atap rumah itu?. Nah itulah rumah kakek“.
      “Berarti kita makin dekat dong“.
Mereka berajalan ke rumah Kakek sambil mengibas-ngibaskan daun jagung dari tempat yang di laluinya. Dan akhirnya mereka sampai juga. Kakek dan Nenek menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Apalagi Rifda adalah cucu pertama mereka yang hanya datang jika sedang libur panjang. Oleh Kakek dan Nenek Ririn dan Rifda di suguhi berbagai makanan dan buah-buahan yang masih sangat segar. Mereka pun melahapnya dengan tenang. Mereka kemudian beristirahat hingga malam tiba. Mereka betul-betul merasakan kesunyian yang sangat berbeda dengan suasana kota. Malam itu pun berlalu dengan damai di iringi nyanyian burung malam dan hembusan angin pegunungan yang sangat sejuk. Keesokan harinya, kakek berpamitan pada mereka untuk mengikuti acara syukuran di perkampungan sebelah. Kakek dan Nenek pun berpamitan akan mengunjungi tetangga yang ada di seberang dan berjanji tidak akan lama. Tinggalah Rifda dan Ririn di rumah Nenek. Tak terasa malam semakin larut. Jam tangan Ririn menunjukan pukul sembilan lebih lima belas menit. Rumah Nenek hanya diterangi lampu minyak. Rifda sudah terbiasa dengan keadaan itu. Keterlambatan Kakek dan Nenek membuat mereka mulai was-was, terutama Ririn si pendatang baru.
Entah apa yang mengganggu, tiba-tiba suara itik, ayam, dan anjing Kakek pada ribut. Sejenak Ririn mendongakan kepala. Ririn lalu mengibaskan selimut yang menutupi separuh badannya lalu melompat ke dekat Rifda yang asyik membolak-balik majalah yang di bawahnya.
      ‘‘Rif...aku takut sekali, Kakek perginya lama sekali ya?“, bisik Ririn.
      “Ah, tidak usah takut, tidak ada   apa-apa. Sebentar juga  ternak Kakek pada diam kok, sebentar juga Kakek Nenek datang“, Jawab Rifda.
Rifda terus membujuk Ririn yang mulai panik, tetapi apa yang dikataka oleh Rifda justru sebaliknya. Suara dari kolong rumah makin ribut. Dalam hati Rifda pun mulai cemas. Tetapi ia berusaha menyembunyikan kecemasannya karena tidak ingin membuat Ririn semakin panik.
      ‘‘Rif... mana senter Kakek, cepat cari‘‘, bisik Ririn.
      ‘‘Ia Rin sabar yaa?‘‘, kata Rifda gugup.
Rifda berusaha menacari senter Kakek sambil meraba-raba di bawah meja dekat tempat tidurnya. Setelah mendapat senter itu, Rifda mulai menyenter ke sekeliling dan sudut-sudut ruangan dikuti oleh mata Rifda yang dari tadi tegang. Tanpa berfikir panjang, Rifda langsung mengerjakan perintah Ririn. Kemudian secara bersamaan mereka tersentak kaget.
      “Apa itu Rif?, melingkar dan berkilau-kilau?, tanya Ririn penasaran.
      “Tidak tahu Rin, tidak jelas“, jawab Rifda sambil menggosok matanya.
      ‘Haa?! se..seperti u...ular besar Rin,  tapi masak sih mungkin aku salah lihat Rin“,kata Rifda tegang.
      “Ia Rif, itu memang ular. Sana ekornya tapi kepalanya mana?”, tanya Ririn panik.
Ririn hampir saja melompat kalau tidak segera di cegah oleh Rifda.
      ‘‘Tenang Rin, jangan membuat ular itu kaget. Kita harus turun dari rumah tanpa sepengetahauan ular itu‘‘, kata Rifda berbisik.
Kepanikan sudah memenuhi seluruh ruang hati Rifda dan Ririn. Mereka berusaha menenangkan diri sambil berdoa’a. Ia ingat do’a yang pernah di ajarakan oleh guru agamanya ketika sedang melihat binatang buas yaitu salaamuun alaa nuuheen. Untuk sementara, ular besar itu sedang sibuk mengincar itik Nenek. Dalam suasana remang-remang, Rifda dan Ririn berusaha mendekati pintu sambil meraba-raba. Tanpa sengaja, Ririn menabrak bangku sehingga menimbulkan suara gaduh. Hampir saja Ririn berteriak keras kalau Ririn tidak segera menutup mulutnya. Perlahan-lahan sang ular bergerak. Rupanya sang ular menarik naik kepalanya dan muncul di dekat lingkaran badannya. Rifda dan Ririn menghentikan langkahnya. Mereka berdiri mematung di dekat pintu tanpa berani membuka pintu yang terkunci itu. Sekujur tubuh mereka basah oleh keringat. Mereka tahu betul kalau ular itu adalah ular ganas dan berbisa serta dapat meremukkan tulang belulang mereaka dalam waktu sekejap. Dalam hati mereka berharap semoga Tuhan mendengar do’a mereka sehingga ular itu segera pergi membawa itik yang sudah dimangsanya. Tetapi ular itu makin menegkkan kepalanya dengan posisi siap menyerang. Lidahnya yang bercabang dijulur-julurkan sambil mendesis. Perlahan-lahan Rifda dan Ririn mundur. Rifda berusaha menarik balok yang ada di dekat pintu. Dalam benak Rifda terfikir ia akan menghantam ular itu dengan balok kalau sampai menyerangnya. Ular itu kemudian secara pelan-pelan menurunkan kepalanya dan menyusupkannya ke dalam kandang, demikian juga lingkaran badannya perlahan-lahan tertarik kebawah hingga sampai ekor. Sesaat kemudian, itik nenek semakin gaduh dan lari terbirit-birit diikuti suara jeritan melengking seekor itik betina Kakek. Rupanya itik itu berhasil ditangkapnya. Ular itu kemudian merayap keluar meninggalkan kandang membawa mangsanya dan menyusup di sela-sela rerumputan hingga menghilang di balik pepohonan. Rifda dan Ririn memperhatikan kepergian ular itu dengan sorotan senternya. Napas mereka seakan tertahan sampai ular tidak terlihat lagi. Rifda dan Ririn berpelukan gembira. Sejuta rasa syukur terucap di hati mereka, karena Tuhan telah melindungi mereka dari bahaya yang baru saja mengancam keselamatannya. Hati Rifda dan Ririn pun semakin legah setelah Kakek dan Neneknya sudah datang. Mereka menceritakan kejadian mencekam yang baru saja di alaminya. Kakek dan Nenek pun sangat berbangga karena Rifda da Ririn adalah anak yang sangat pemberani. Akhirnya malam yang menegangkan itu berlalu kemudian berganti dengan nyanyian burung malam yang diselingi gesekan dedaunan di tiup angin malam pegunungan. Ririn dan Rifda terlelap di bawah selimut yang menghangatkan tubuhnya sambil menanti kicauan burung menyambut mentari pagi@                                                                               
8.      JAKET BIRU


Sejak semalam, Nida sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya esok pagi pulang kampung alias mudik. Nida memang sudah lama tidak pulang. Untuk itu, menejelang lebaran tahun ini dimanfaatkannya untuk pulang menemui orang-orang yang sangat dicintainya. Jarak antara kota Makassar dengan kampungnya kurang lebih empat ratus kilo meter. Ia sengaja disekolahkan disalah satu sekolah terbaik di kota itu karena prestasi Nida yang sudah terlihat sejak SD. Oleh orang tuanya yang ingin menambah wawasan dan kemajuan anaknya, maka di sekolahkanlah putri semata wayangnya itu di sekolah Paforit tersebut. Hari ini adalh hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Nida. Tidak lupa ia membawa buku pelajaran lengkap dengan catatan-catatannya untuk mengerjakan tugas masa liburan yang telah diberikan oleh gurunya.  Nida memang anak yang rajin dan cekatan dalam memanfaatkan waktu. Ia teringat betul nasehat dari para gurunya yang mengatakan bahwa waktu adalah kesempatan. Selain itu, bagi Nida waktu adalah ibadah. Jadi membuang waktu berarti menyia-nyaiakan kesempatan. Dan waktu yang telah berlalu tidak akan terulang walau sedetik pun.  
      “Nida...Niid...ayo  cepat bangun, katanya mau cepat-cepat ke terminal sudah jam 7!”, teriak tantenya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Nida yang masih mendengkur di dalam kamarnya samar-samar mendengar teriakan tantenya. Ia kemudian membuka matanya dan langsung menatap jam dinding di kamarnya. Matanya terbelalak ketika melihat jarum panjang jamnya sudah menunjuk angka 7. Setelah terdiam sejenak, ia langsung mengibaskan selimut yang menutupi badannya kemudian buru-buru ke kamar mandi. Tedengar air yang diguyur membasahi badan Nida. Setelah itu, ia tampak buru-buru dari arah kamar mandi. 
    „Ah, seharusnya sehabis shalat shubuh tadi aku nggak usah tidur. Aku bisa telat nih, giamana kalu bus yang udah aku pesan keburu pergi?,“ kata Nida membatin.
Setelah berpakaian rapi dengan kerudung warna biru yang semakin mempercantik parasanya, ia berpamitan pada tantenya. Nida terlihata membawa sebuah tas dan ransel yang menggantung rapi di punggunya. Ia keluar dari jalan besar dan menyetop Taxi Gowata yang akan membawanya menuju terminal Regional Daya. Sekitar dua puluh menit dalam Taxi, sampailah ia di Terminal. Sambil tergopoh-gopoh ia melangkah ke tempat Bus yang biasa mengantarnya. Dengan  penuh selidik matanya nanar seperti mencari sesuatu. Sekilas Nida tersenyum kecil ketika Bus yang dicarinya sudah terlihat.
      ‘’Ahaa, itu dia Bus Surya Litha langganan aku. Alhamdulillah aku tidak terlambat. Tapi wah busnya penuh sekali’’, kata Nida dalam hati.
     “Bismillahi rahmani rahiim”, itulah kata yang diucapkan Nida ketika melangkahkan kaki kanannya menaiki Bus. Sambil menjinjing tasnya, ia memperhatikan kursi yang kosong. Terlihat wajah cantiknya tampak cemberut karena impiannya untuk duduk di barisan depan dekat jendela tidak terpenuhi. Nida malah mendapat kursi yang terdapat di jok paling belakang. Dengan berat hati dihempaskannya pantatnya di kursi itu sambil menarik napas panjang. Mau tidak mau, suka atau tidak suka apa boleh buat, tidak ada pilihan lagi. Nida menyadari bahwa setiap kendaraan umum selalu kebanjiran penumpang disaat menjelang hari Raya seperti yang dialaminya hari ini. Perlahan-lahan Bus mulai melaju meninggalka area terminal dan makin lama makin kencang. Tanpa terasa bus sudah meninggalkan Kota Makassar dan memasuki Kabupaten Maros. Nida selalu memperhatikan setiap Kabupaten yang sudah dilaluinya. Untuk mengusir kejenuhannya, Nida mengeluarkan Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang belum selesai dibacanya. Ia sangat tertarik dengan Novel itu yang menceritakan perjuangan seorang guru di suatu tempat yang terpencil. Nida juga memiliki Novel lain yang lagi terkenal di samping koleksi buku lainnya yang memenuhi lemari bukunya. Baginya, buku adalah jendela dunia. Makanya tidak heran jika usianya masih empat belas tahun tetapi wawasan berfikirnya sangat luas sehingga rengking satu tidak pernah terlepas dari genggamannya.  Nida menghabiskan waktunya dalam Bus dengan terus membaca hingga tampak sesekali menutup novelnya sambil bersandar menutup mata. Ia merasa sedikit pusing. Mungkin karena penumpang terlalu banyak, Ac Bus kurang kencang, dan dia duduk di jok paling belakang.
      ‘’Ya Allah, kenapa perasaanku tidak enak begini?, aku kan tidak pernah mengalami perasaan seperti ini sebelumnya apa karena aku tidak sempat sarapan?”, kata Nida dalam hati.
Setelah tiga jam perjalanan, perasaan Nida semakin tidak karuan. Aroma peluh dari para penumpang yang berdesakan membuatnya semakin pusing. Ia menoleh ke kiri kanan tetapi para penumpang asyik dengan dirinya sendiri. Ada yang  memandang ke luar jendela, ada juga yang tertidur lelap. Rupanya dia sendiri yang asyik membaca sampai rasa pusing memaksanya menghentiakan bacaannya.  Perasaan Nida semakin tidak terkendali. Keringat dingin bercucuran di keningnya sehingga ia mengambil ujung kerudungnya dan melap lembut keringat di keningnya. Nida mual dan merasa hendak muntah. Cepat-cepat ia membuka ransel dan mengambil kantong palastik kecil yang terlipat rapi dalam tasnya. Tak lama kemudian terdengar suara Nida di antara kesunyian.
      “Uuoooaak…uoooaaak…”,Nida muntah. Penglihatannya berputar-putar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Nida berusaha menjaga keseimbanmgan tubuhnya kemudian berusaha menelungkupkan kepalanya di belakang jok kursi di depannya sambil memejamkan mata. Nida kemudian mengeluarkan air minum Aqua dari dalam ranselnya. Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang.
      “Dik…Dik…kamu tidak apa-apa kan?”.
Nida tidak menghiraukan suara itu karena merasa tak mengenal siapa pun dalam bus itu. Lagi pula suara itu kembali terdengar olehnya dan disertai tepukan lembut di bahunya.
      “Maaf Dik...kamu baik-baik saja?“ tanya orang itu lagi.
Nida berusaha mengangkat wajahnya mencari sumber suara itu. Nida terperanjat ternyata yang menegurnya seorang cowok. Wajahnya tampan, cool mirip sekali dengan tokoh Fahri pemeran film Ayat-Ayat Cinta yang pernah ditontonnya. Nida berusaha tersenyum walau wajahnya terlihat pucat, ia tetap berusaha ramah terhadap orang yang telah menawarkan pertolongan kepadanya.
      “Oh iya Kak...aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing dan mual“, jawab Nida.
      ‘‘Begini, Adik pindah ke tempat duduk saya di depan sana. Kita tukaran, biar Aku yang duduk di sini. Jok belakang kadang memang bikin mabuk“, kata cowok itu.
      ‘‘Oh...tidak usah Kak, aku baik-baik saja terimakasih“. Jawab Nida.
      “Ayolah Dik, tidak usah malu, siapa tahu di depan sana kamu akan jauh lebih baik“, kata   cowok itu lagi.
Sebenarnya dalam hati Nida sangat gembira karena tempat duduk di depan sudah diinginkannya sejak awal. Tetapi keadaan memaksanya untuk harus duduk di belakang. Karena tidak ingin mengecewakan orang yang telah menawarkan pertolongan padanya, maka dengan wajah malu-malu Nida pun berpindah tempat duduk. Sebelum menduduki kursinya, ia sempat menoleh ke belakang memeperhatikan cowok yang telah menolongnya. Terlihat cowok itupun sedang duduk di tempat duduk Nida. Benar juga, di tempat duduk yang baru Nida merasa agak baikan. Dalam hati ia bertanya-tanya cowok itu baik sekali padanya padahal ia sama sekali tak mengenalnya. Melihatnya pun baru kali ini. Nida kemudian dikagetkan oleh suara cowok itu lagi.
      “Dik, ini jaket saya. Kamu boleh pake supaya badan kamu hangat yaa“, kata Cowok itu sambil menyodorkan jaketnya.
Nida merasa mendapat pertolongan yang beruntun. Sementara masih memikirkan pertolongan yang pertama, datang lagi pertolongan yang kedua. Hal ini membuat Nida makin bingung sehingga membuatnya tak mampu untuk menolak. Diliputi perasaan gembira Nida kemudian menutupi badannya dengan jaket berwarna biru itu sambil bersandar. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat cowok yang telah menolongnya. Dalam hati ia bersyukur dan juga heran, ternyata di jaman sekarang dengan budaya individualistis yang mulai menjalar ke dalam hati setiap orang, toh masih ada orang yang berhati mulia yang mau menolong  sesama dengan ikhlas.
      ‘‘Minggir Bang“, teriak seseorang.
      ‘‘Rasanya Aku kenal dengan suara itu‘‘, kata Nida dalam hati.
Bus pun merapat ke pinggir jalan pertanda seseorang akan turun.
     “Dik, saya sudah nyampe, oya nama saya Ryan, kamu siapa?”, tanya cowok itu.
      “Aku Nida, oya Kak, makasih banyak atas segala pertolongannya,” kata Nida.
      “Iya Dik, sama-sama. Duluan yaa. Selamat jalan Dik moga sampai di tujuan dengan        selamat”, kata Ryan sebelum melompat turun dari Bus.
Tiba-tiba Nida teringat akan jaket biru di badannya. Cepat-cepat ia berdiri dan melongokan kepalanya di jendela sambil berteriak.
      “Kak...Kak Ryan...jaketnya Kak“, teriak Nida.
Ryan yang mendengar teriakan Nida menoleh sambil menjawab dengan lambaian tangannya.
      “Buat Adik Nida aja. Dirawat yaa?“, teriak Ryan.
Nida masih berdiri di dekat jendela hingga Bus menjauh dan Ryan tidak terihat lagi. Bus pun melaju kencang. Tak terasa butir-butir air mata Nida menetes di pipinya. Ia teringat dengan Kakaknya yang mirip Ryan namun sudah meninggal akibat kecelakaan. Selain itu Nida juga menangis karena terharu akan kemuliaan hati Ryan yang telah menolongnya. Nida hanya berharap semoga dapat bertemu kembali dengan Ryan dan juga Tuhan membalas segala kebaikan dan kemuliaan hati Ryan.  Ternyata kebaikan yang nyata masih ada di jman yang serba individualistis seperti sekarang ini. Dalam hati Nida berjanji akan merawat jaket biru itu, atas permintaan terakhir orang yang telah menolongnya@


Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Halo, Perkenalkan saya Tiarah

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

KUMPULAN CERPEN TEMBANG DUKA

KUMPULAN CERPEN  TEMBANG DUKA 1.         ­DIARY ATIKA Sekarang  Kakak Atika telah banyak berubah. Sikapnya yang selalu r...

Label

Label

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.